JAKARTA — Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko, mengajak semua pihak mengunci program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam undang-undang, lembaga, dan anggaran agar matang dalam satu generasi, 25 tahun ke depan, siapa pun yang memimpin.
Ia menegaskan bahwa angka 25 tahun itu adalah umur program, bukan umur kekuasaan. Pelajarannya datang dari Brasil: masa kepemimpinan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, bila periode keempatnya tuntas, berjumlah 16 tahun, tetapi program sosial yang ia lahirkan sudah terbukti hidup lebih lama dari pemimpinnya.
Pemilu presiden Brasil 2026 berlangsung sangat ketat. Lula sempat tertinggal dari Flávio Bolsonaro di putaran pertama 4 Oktober (45,16 persen berbanding 47,03 persen).
Ia lalu berbalik menang di putaran kedua 25 Oktober dengan 51,79 persen suara, kemenangan dari posisi kedua yang pertama dalam sejarah Brasil.
Budiman, yang pernah bertemu langsung dengan Lula saat berkunjung ke São Paulo pada 2011, tak lama setelah Lula mengakhiri periode kedua pemerintahannya, menyambut kemenangan itu sebagai buah dari kesetiaan Lula pada agenda melawan lapar.
Flávio menolak mengakui hasil itu dan akan meminta pembatalan, sementara partainya, PL, sudah mengakui kemenangan Lula yang ditetapkan TSE.
Bolsa Família, program bantuan tunai bersyarat Brasil, lahir pada Oktober 2003 di tahun pertama Lula menjabat.
Program itu sempat berganti nama menjadi Auxílio Brasil pada 2021, lalu kembali ke nama semula pada 2023.
Di tangan presiden yang mendukung maupun yang menentangnya, program itu tetap berjalan dan kini telah berumur 23 tahun.
“Program yang dipersonalisasi akan jatuh bersama orangnya. Program yang dilembagakan akan bertahan melewati siapa pun,” kata Budiman.
Menurut Budiman, 25 tahun adalah ukuran satu generasi. Anak yang menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) di kelas 1 SD pada 2025 akan berusia sekitar 31 tahun pada 2050, menjadi bagian dari angkatan kerja yang menopang Indonesia sesudah tonggak Indonesia Emas 2045.




