Jumat 23 Oct 2026 01:24 WIB

Dakwah Muhammadiyah Harus Teguh dalam Akidah, Luwes dalam Pendekatan

Tauhid dan tajdid adalah antibodi ideologis bagi seluruh kader Muhammadiyah.

Pendakwah Fahmi Salim sedang menjelaskan urgensi dakwah.
Foto: istimewa
Pendakwah Fahmi Salim sedang menjelaskan urgensi dakwah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Bidang Tabligh Global Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fahmi Salim, mengingatkan para mubaligh agar tidak mengorbankan prinsip akidah dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan pemikiran kontemporer. Namun, keteguhan dalam beragama harus diiringi keluwesan dalam memilih metode dakwah agar pesan Islam dapat diterima masyarakat.

Hal itu disampaikan Fahmi dalam Pelatihan Nasional Muballigh Muda/Mahasiswa Muhammadiyah (PNM3) di Bantul, Kamis (22/10/2026). Dalam forum yang diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa dan Sumatera tersebut, Fahmi menekankan pentingnya penguatan tauhid dan tajdid sebagai fondasi gerakan dakwah Muhammadiyah.

Baca Juga

"Tauhid dan tajdid adalah antibodi ideologis bagi seluruh kader Muhammadiyah, baik warga maupun pimpinan di setiap tingkatan, dalam menghadapi tantangan pemikiran Islam," kata Fahmi dalam pemaparan materinya.

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta itu mengatakan, tantangan dakwah saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan teologis, tetapi juga perkembangan ideologi dan pemikiran yang dinilainya bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam sesi bertajuk Manhaj Dakwah Muhammadiyah versus Aliran Menyimpang, Fahmi menyinggung sejumlah isu, mulai dari sinkretisme, pluralisme agama, liberalisme, feminisme radikal, hingga gerakan LGBTQ. Ia juga membahas Ahmadiyah, Bahaiyah, Syiah Imamiyah, neo-sufisme, ateisme, komunisme, dan isu kristenisasi.

Menurut Fahmi, perkembangan pemikiran tersebut menuntut para dai memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus kemampuan membaca perubahan sosial. Ia mencontohkan perdebatan mengenai kebebasan orientasi seksual sebagai salah satu isu kontemporer yang perlu direspons melalui pendekatan dakwah yang tepat.

Fahmi menegaskan Islam tidak boleh dipahami sebatas identitas atau gaya hidup. Islam, menurut dia, harus menjadi pedoman yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

"Islam sebagai way of life," ujar Fahmi.

Karena itu, ia mengingatkan dakwah Muhammadiyah tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Dakwah juga harus diwujudkan dalam kerja nyata melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Fahmi mencontohkan keberadaan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah sebagai bagian dari implementasi dakwah. Seluruh institusi tersebut, katanya, harus tetap berpijak pada nilai tauhid.

Di sisi lain, Fahmi mengingatkan para mubaligh agar tidak menggunakan pendekatan yang justru menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat. Ketegasan dalam mempertahankan akidah, menurut dia, tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran untuk bersikap keras terhadap setiap perbedaan.

"Pelaksanaan nahi munkar tidak boleh menghadirkan kemungkaran yang baru," demikian salah satu prinsip yang ditekankan Fahmi dalam materinya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi