REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Universitas AKPRIND Indonesia kembali menjalankan peran pendidikan tingginya melalui program pengabdian masyarakat. Pada 2026, dua proposal Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (AKSARA Mahasiswa) yang diajukan kampus ini lolos seleksi dan memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dua program tersebut dirancang untuk berfokus pada penerapan teknologi tepat guna, pemanfaatan potensi ekonomi lokal, peningkatan produktivitas warga, serta skema pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Pelaksanaan program ditempatkan di dua lokasi berbeda yakni Dusun Banaran, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta; dan Desa Tegalmulyo, Klaten, Jawa Tengah.
Melalui pendanaan ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat di ruang kuliah secara langsung di lapangan. Kegiatan ini juga ditujukan untuk melatih kepemimpinan, kepekaan sosial, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi dalam merespons kebutuhan masyarakat setempat.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas AKPRIND Indonesia, Prof. Dr. Anak Agung Sustrawan, ST, M.Tech, mengatakan pendanaan ini menjadi saluran untuk memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan masyarakat. “Program AKSARA Mahasiswa memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga belajar memahami kebutuhan masyarakat, membangun komunikasi, bekerja dalam tim, dan mengembangkan solusi yang dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Prof Agung dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, keterlibatan di lapangan merupakan bagian dari proses belajar yang menghubungkan materi akademis dengan kondisi riil. Pengalaman ini diharapkan membantu mahasiswa mengembangkan pola pikir yang terarah, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
“Keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari manfaat teknologi yang diterapkan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta keberlanjutan hasil kegiatan setelah program selesai,” ujarnya.
Direktur DP2M Universitas AKPRIND Indonesia, Prof. Dr. Ir. Sri Mulyaningsih, ST, MT, menjelaskan bahwa perguruan tinggi perlu memastikan inovasi pengetahuan dapat diterapkan secara nyata untuk mendukung kehidupan masyarakat. Menurut Prof. Sri, program AKSARA Mahasiswa menjadi wadah kerja sama antara dosen, mahasiswa, warga, dan pemangku kepentingan dalam menyusun solusi yang sesuai dengan potensi wilayah.
“Pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Penerapan teknologi tepat guna dan inovasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat potensi ekonomi lokal, serta mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” kata dia.
Untuk pelaksanaan di Dusun Banaran, Cangkringan, Sleman, kegiatan difokuskan pada penguatan sektor peternakan ayam dan pertanian hortikultura melalui teknologi tepat guna. Penggabungan dua sektor ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha warga serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal yang ada.
Ketua pelaksana program di Banaran, Dr. Ir. Ganjar Andaka, mengatakan program ini disusun untuk mendorong penggunaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masyarakat di sektor peternakan maupun pertanian.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong masyarakat agar semakin optimal dalam mengembangkan potensi peternakan dan pertanian dengan dukungan teknologi tepat guna. Harapannya, penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat usaha masyarakat, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Ganjar.
Ia mengatakan pengembangan sektor peternakan dan pertanian memerlukan pendekatan kontekstual agar hasil yang dicapai dapat berjalan konsisten. Adapun program kedua yang dilaksanakan di Desa Tegalmulyo, Klaten, berfokus pada pengembangan potensi ekonomi lokal melalui pengelolaan komoditas kopi dan bawang yang dipadukan dengan manajemen ketahanan air. Pendekatan ini dilakukan agar aktivitas pertanian di kawasan tersebut dapat berjalan efektif dengan mempertimbangkan ketersediaan air secara jangka panjang.
Ketua pelaksana program di Tegalmulyo mengatakan pengelolaan sumber daya yang tepat menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan komoditas lokal. “Program ini berupaya mengoptimalkan potensi kopi dan bawang melalui pendekatan yang terintegrasi dengan pengelolaan air secara berkelanjutan. Kami berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha pertanian, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat potensi ekonomi lokal,” ujarnya.
Ia menyebut keberhasilan di sektor pertanian ditentukan oleh kombinasi pemilihan komoditas, pengelolaan sumber daya air, penerapan teknologi yang pas, serta kerja sama antarwilayah. Dengan diperolehnya pendanaan dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pelaksanaan dua program AKSARA Mahasiswa tahun 2026 ini diharapkan dapat berjalan sesuai dengan rencana kerja di masing-masing lokasi. Integrasi antara pendidikan, penerapan ilmu, dan partisipasi warga menjadi dasar dari pelaksanaan kegiatan ini agar memberikan dampak yang riil bagi masyarakat di Dusun Banaran dan Desa Tegalmulyo.




