Senin 19 Oct 2026 11:16 WIB

Kabut Asap Karhutla: Perlu Mitigasi Risiko Bencana Kesehatan dan Krisis Sosial

Aktivitas luar yang terbatas menurunkan roda ekonomi.

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (18/10/2026). Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 9 November 2026 untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran, menyusul tingginya kejadian karhutla yang berdasarkan data BPBD Palangka Raya mencapai 909 kejadian dengan total luas lahan terbakar 1.448,90 hektare sejak 1 Juni hingga 17 Oktober 2026.
Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (18/10/2026). Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 9 November 2026 untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran, menyusul tingginya kejadian karhutla yang berdasarkan data BPBD Palangka Raya mencapai 909 kejadian dengan total luas lahan terbakar 1.448,90 hektare sejak 1 Juni hingga 17 Oktober 2026.

REPUBLIKA,CO.ID -- JAKARTA  Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyoroti dampak serius kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat dan kondisi sosial-ekonomi warga. Situasi ini memerlukan penanganan terpadu dengan mengutamakan keselamatan masyarakat.

Paparan partikel halus (PM2.5) dan polutan dalam asap dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, dan kulit. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis adalah kelompok paling rentan terdampak sakit.

Baca Juga

Aktivitas luar yang terbatas menurunkan roda ekonomi dan meningkatkan kerentanan menuju krisis sosial. Menyikapi kondisi tersebut, MER-C Indonesia mendorong langkah-langkah berikut:

Pertama, Pengendalian terpadu kebakaran hutan dengan membekali petugas dengan wawasan, alat pengaman diri, dan strategi yang terukur;

Kedua, Himbauan pembatasan sementara aktivitas masyarakat di daerah dengan risiko paparan kabut asap paling berbahaya;

Ketiga, Penggunaan masker berbasis risiko, masker bedah untuk mengurangi paparan partikel karbon kasar, dan masker respirator seperti N95 atau KN95 untuk mengurangi paparan partikel yang lebih kecil seperti PM 2.5;

Keempat, Penguatan logistik rumah sakit mengantisipasi lonjakan kasus medis terkait kabut asap.

MER-C Indonesia menghimbau seluruh relawan MER-C dan relawan lain di wilayah terdampak kabut asap karhutla untuk tetap menjaga keselamatan diri, selalu berkoordinasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, dan lembaga kemanusiaan untuk memastikan perlindungan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi