Selasa 13 Oct 2026 10:02 WIB

Batam: Listrik Mati, Air Habis, Kabut Menguar

Keberadaan pusat data center AI diproyeksi bakal menyedot pasokan listrik Batam.

Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Teguh Prihatna
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM – Warga Pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya di Kepulauan Riau hidup tanpa listrik dan aliran air dua hari belakangan. Belum lagi kabut asap impor membuat sesak warga di sana.

“Dari kemarin pagi jam setengah tujuh listriknya mati,” kata Aftah, salah seorang pegawai negeri sipil di Batam kepada Republika, Selasa. Di lokasi tempatnya tinggal di wilayah Tiban, listrik padam hingga pukul 12.00 malam.

Matinya listrik membuat aliran air di rumah mereka juga tak mengalir. Selain itu jaringan telepon juga terganggu.

“Pagi ini mati lagi listriknya,” kata dia. Kantor tempatnya bekerja saat ini beroperasi dengan menggunakan set generator listrik.

Ani, warga Batam lainnya sedang berada di pulau seberang, Bintan, saat listrik mati, kemarin. “Iya, ini di Tanjung Pinang juga mati listrik,” kata dia.

Menurut keduanya, bukan persoalan mati listrik saja yang jadi persoalan di Batam. “Anak-anak sudah diliburkan sekolah di sini,” ujar Aftah. “Jadi kami ini sudah listrik mati, air tak ada, kena asap pulak.”

Tak ada penjelasan sejauh ini yang diterima warga Batam soal mengapa listrik padam total dua hari berturut-turut. “Mungkin karena berat beban listrik sejak ada KEK (kawasan ekonomi khusus) di Nongsa itu,” ujarnya.

photo
Tampilan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 156 kWp Pulau Panjang, di Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. - (Dok. PLN)

Kebutuhan listrik kawasan ekonomi khusus Nongsa Digital Park tersebut memang tak main-main. Pertumbuhan industri pusat data (data center) di Batam berpotensi mengubah peta kebutuhan listrik sekaligus menjadi tantangan besar bagi keandalan sistem kelistrikan di kawasan tersebut. 

Dilansir laman resmi BP Batam, Anggota/Deputi Bidang Investasi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Fary Djemy Francis, mengatakan kebutuhan energi sektor data center diproyeksikan menjadi salah satu tantangan utama sistem kelistrikan Batam dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, 2029 diperkirakan menjadi titik krusial ketika kebutuhan listrik data center mulai melampaui separuh beban puncak listrik Batam.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pusat data bukan sekadar persoalan menarik investasi baru, melainkan juga kemampuan menyediakan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan. Pasalnya, data center membutuhkan pasokan energi yang stabil dan andal untuk menjaga operasional server, jaringan, sistem pendingin, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Fary menyampaikan hal tersebut dalam Sosialisasi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 354.K/TL.04/MEM.L/2026 tentang Tarif Tenaga Listrik PT PLN Batam di Hotel Mercure Batam, Jumat (25/9/2026).

Tekanan terhadap sistem kelistrikan Batam diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan industri dan masuknya investasi baru. PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035, atau hampir tiga kali lipat dalam sembilan tahun.

Berita Lainnya

Rekomendasi