REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang cakap memadukan ilmu bisnis dan teknologi semakin mendesak. Merespons hal tersebut, Cyber University (Universitas Siber Indonesia) menggelar forum Cyber Connect 2026 di Aula Cyber University, Jl TB Simatupang, No 6, Jakarta Selatan, pada Kamis (24/9/2026). Acara ini mempertemukan akademisi dengan praktisi industri guna membedah standar kesiapan kerja lulusan Cyber University.
Forum ini juga menghadirkan Pj Kepala Bagian Divisi Human Capital Bank Raya, Diki Zulfikri, alumni Program Studi (Prodi) Bisnis Digital Cyber University sebagai perwakilan lulusan. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara penguasaan teori dan keterampilan praktis. "Lulusan Prodi Bisnis Digital perlu memiliki kombinasi antara kemampuan analitis, pemahaman bisnis, penguasaan teknologi digital, serta komunikasi yang baik," kata Diki, dari rilis yang diterima, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, industri masa kini menuntut pekerja yang adaptif dan mampu memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah.
Pandangan selaras turut disampaikan oleh Suadi Mariyo, Supervisor Divisi Human Capital Bank Raya sekaligus alumni Prodi Bisnis Digital Cyber University juga. Ia membagikan pengalamannya dalam menerapkan ilmu dari bangku kuliah ke dunia profesional.
“Belajar di Prodi Bisnis Digital membekali saya bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga pola pikir untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah,” ungkap Suadi.
Kehadiran praktisi industri dan alumni tersebut menjadi langkah strategis kampus dalam menyelaraskan kurikulum pendidikan. Ketua Prodi Bisnis Digital Cyber University, Vivi Afifah, menegaskan bahwa masukan dari dunia usaha sangat berharga bagi institusinya.
"Kami ingin mendengar langsung dari pengguna lulusan mengenai kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja," kata Vivi.
Menurutnya, evaluasi ini menjadi bahan penting untuk memperkuat kemampuan mahasiswa di bidang data, teknologi, dan pemecahan masalah.
Vivi berharap, sinergi melalui ruang dialog Cyber Connect 2026 ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Melalui evaluasi kurikulum yang berkelanjutan, perguruan tinggi didorong untuk terus mencetak lulusan yang tidak sekadar paham teori, tetapi siap memberikan kontribusi nyata di industri digital.




