
Oleh: Fitriyan Zamzami, jurnalis Republika
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Pada 7 Oktober 2023, faksi-faksi perlawanan di Gaza melancarkan serangan ke Israel untuk membebaskan wilayah mereka dari belasan tahun blokade mematikan Zionis. Tiga tahun kemudian, serangan tersebut dan balasan genosidal Israel ke Gaza mengobrak-abrik tatanan geopolitik serta mengubah drastis jalannya sejarah dunia.
Gaza tidak lagi dapat dilihat semata sebagai episentrum penjajahan Israel atas Palestina. Perang yang pecah setelah serangan ke Israel telah berkembang menjadi rangkaian krisis yang menjalar dari Gaza ke Lebanon, Iran, Yaman, Suriah, Laut Merah, Teluk Persia hingga Eropa.
Bahkan ketika perhatian dunia sempat bergeser ke perang Iran, Ukraina, dan kompetisi Amerika Serikat-China, Gaza tetap menjadi salah satu simpul yang menjelaskan mengapa Timur Tengah kini berada dalam konfigurasi keamanan yang berbeda dari sebelum 7 Oktober.
Serangan 7 Oktober menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan lebih dari 250 orang disandera, menurut data Israel. Penelitian lanjutan dan pengakuan pejabat Israel menunjukkan banyak di antara yang tewas di Israel adalah hasil dijalankannya protokol Hannibal oleh militer Zionis.
Sementara Operasi militer Israel yang menyusul kemudian menghancurkan sebagian besar Gaza dan menyebabkan korban Palestina dalam jumlah sangat besar. Kantor berita WAFA melansir, jumlah korban jiwa sejak dimulainya agresi Israel di Jalur Gaza telah mencapai 74.245 orang, sementara total korban luka mencapai 175.267 orang.
Bahkan sejak ‘gencatan senjata’ pada 11 Oktober 2025 telah mencapai 1.462 orang, dengan 5.151 kasus luka-luka tercatat, di samping ditemukannya kembali jenazah 836 warga sipil.
Pengadilan Internasional (ICJ) dalam opini nasihatnya pada 2025 juga mencatat bahwa setelah 7 Oktober, tingkat kendali efektif Israel atas Gaza meningkat dan kewajiban Israel menurut hukum pendudukan ikut meningkat.
Sebelum pembunuhan massal
Sebelum 7 Oktober, Timur Tengah sedang bergerak ke arah normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab. Kesepakatan Abraham antara Israel, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko membuka kemungkinan bahwa kepentingan ekonomi, teknologi, perdagangan dan keamanan dapat perlahan menggeser konflik Palestina dari pusat politik kawasan.
Arab Saudi di Teluk serta Pakistan, dan Indonesia di bagian selatan Asia jadi sasaran Israel dan AS sebagai anggota kesepakatan tersebut. Nasib isu Palestina senyatanya di ujung tanduk. Proses itu belum sepenuhnya runtuh. Hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab tetap berjalan. Tetapi Gaza mengubah prioritas politik kawasan.
Normalisasi yang sebelumnya dibayangkan sebagai jalan menuju integrasi regional kini berhadapan dengan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana membangun tatanan Timur Tengah baru ketika persoalan Palestina kembali menjadi isu utama?
Negara-negara Arab tak bisa lagi tanpa konsekuensi membangun hubungan diplomasi dengan Israel yang nyaris secara menyeluruh dipancang umat Islam sebagai pelaku genosida. Kemarahan warga setempat jadi risiko yang terlampau besar untuk menormalisasi hubungan dengan Israel pada masa-masa saat ini.
Sejumlah analisis seperti dari the Washington Institute mencatat bahwa perang Gaza menekan hubungan Israel dengan negara-negara Arab, meski arsitektur Abraham Accords tidak sepenuhnya bubar.
Front perang baru...




