REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Pembelajaran digital di perguruan tinggi tidak berhenti pada bagaimana materi kuliah tersedia dalam bentuk digital. Tantangan berikutnya adalah bagaimana materi tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang membuat mahasiswa aktif menganalisis persoalan, mengembangkan solusi, dan membuktikan kompetensinya melalui sebuah proyek.
Semangat tersebut diterapkan Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melalui pengembangan Learning Object Materials (LOM) pada mata kuliah Jaringan Komputer berbasis Case Method dan Project-Based Learning (PjBL).
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari Hibah Inovasi Pembelajaran Digital (IPD) 2026. Hasilnya disampaikan Ketua Tim Hibah IPD 2026 Program Studi Informatika UBSI, Jordy Lasmana Putra dalam kegiatan Diseminasi Hasil Transformasi Pembelajaran Digital Berbasis Case Method dan Project-Based Learning pada Mata Kuliah Jaringan Komputer di Asyana Hotel Pemuda, Rabu (16/9).
Mewakili tim pengembang, Jordy menjelaskan bahwa LOM dirancang bukan hanya sebagai kumpulan materi pembelajaran digital. Materi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar yang mengarahkan mahasiswa untuk memahami kasus, menganalisis persoalan, hingga menghasilkan solusi melalui proyek.
“Yang kami bangun bukan sekadar materi pembelajaran digital, tetapi bagaimana materi tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar mahasiswa. Mahasiswa dihadapkan pada kasus, kemudian mengembangkan solusi melalui proyek yang dapat mengukur ketercapaian kompetensi pembelajaran,” ujar Jordy dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (22/9).
Melampaui Target Peserta
Pengembangan model pembelajaran tersebut juga diuji melalui pilot project. Pada tahap awal, program menargetkan 40 mahasiswa UBSI dan 20 mahasiswa STT Wastukancana Purwakarta untuk terlibat dalam pembelajaran.
Dalam implementasinya, jumlah mahasiswa UBSI yang dilibatkan mencapai 60 orang sebagai peserta pilot project. Sementara dari STT Wastukancana Purwakarta, sebanyak 27 mahasiswa menyatakan minat untuk mengikuti pembelajaran.
Pelaksanaan pilot project tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi untuk melihat ketercapaian Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dengan target minimal ketercapaian sebesar 75 persen.
Data tersebut menjadi penting karena transformasi pembelajaran tidak hanya dilihat dari tersedianya perangkat digital, tetapi juga dari bagaimana perangkat tersebut digunakan dalam proses pembelajaran dan membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang ditargetkan.




