REPUBLIKA.CO.ID, DOMPU, – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, Nusa Tenggara Barat, mencatat pencapaian signifikan dalam pelayanan hemodialisis atau cuci darah. Hingga September 2026, rumah sakit ini telah melayani lebih dari 100 pasien yang membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal tersebut.
Kepala Seksi Humas dan Pemasaran RSUD Dompu, Muhammad Iradat, mengungkapkan bahwa layanan ini didukung oleh 10 mesin hemodialisis. Dari total pasien yang pernah dilayani, sebanyak 76 orang di antaranya menjalani terapi secara rutin setiap pekan.
"Untuk pasien yang sudah dilayani lebih dari 100 orang, sedangkan yang rutin menjalani cuci darah setiap pekan sekitar 76 pasien,” kata Iradat kepada ANTARA di Dompu, Sabtu.
Tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan ini terlihat dari masih adanya daftar antrean. Iradat menyebutkan, sekitar 80 pasien masih menunggu giliran untuk mendapatkan layanan cuci darah di RSUD Dompu.
Cakupan Layanan Luas
Layanan hemodialisis di RSUD Dompu tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Kabupaten Dompu. Pasien dari Kabupaten Bima, Kota Bima, serta individu yang sedang bepergian atau kembali ke daerah asal dan membutuhkan terapi juga dilayani di fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah ini.
Iradat menjelaskan, hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti fungsi ginjal bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang telah mencapai kondisi tertentu sesuai indikasi medis. Gangguan fungsi ginjal sendiri dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, antara lain diabetes, tekanan darah tinggi, batu ginjal, penyakit autoimun, kelainan genetik, infeksi ginjal, serta sejumlah penyakit lain yang memengaruhi fungsi organ vital tersebut.
Pada kondisi gagal ginjal tahap akhir, pasien dapat membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal. Pilihannya berupa hemodialisis, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), atau transplantasi ginjal, sesuai kondisi medis dan rekomendasi dokter.
Pasien Remaja dan Pentingnya Deteksi Dini
Menariknya, pasien yang menjalani cuci darah di RSUD Dompu tidak hanya berasal dari kelompok dewasa dan lanjut usia. Sejumlah pasien usia remaja juga membutuhkan terapi tersebut akibat berbagai kondisi medis. Pada kelompok usia muda, gangguan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan kelainan bawaan, infeksi, gangguan sistem kekebalan tubuh, maupun efek penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang yang memerlukan pengawasan medis ketat.
Melihat fakta ini, Iradat mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Imbauan ini terutama ditujukan bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit yang dapat memengaruhi fungsi ginjal.
Pola makan tinggi gula dan garam serta konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Ketiga kondisi tersebut diketahui berkaitan erat dengan penurunan fungsi ginjal. Sementara itu, kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan dehidrasi dan pada kondisi tertentu memengaruhi kesehatan saluran kemih dan ginjal.
“Pemeriksaan kesehatan secara rutin penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih awal, sehingga apabila ada gangguan fungsi ginjal atau penyakit penyerta dapat segera ditangani,” ujar Iradat.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.




