Kamis 17 Sep 2026 05:59 WIB

Drone Tempur Otonom AS Segera Terbang Bersama F-35

Drone tempur otonom mengubah cara Amerika membangun kekuatan udara modern.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi drone Amerika.
Foto: tangkapan layar
Ilustrasi drone Amerika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) bersiap membawa generasi baru pesawat tempur tanpa pilot ke tahap pengujian yang jauh lebih dekat dengan operasi perang sebenarnya. Collaborative Combat Aircraft (CCA) akan untuk pertama kalinya mengikuti latihan pengerahan kekuatan besar dalam Emerald Flag pada Desember 2026, dengan skenario yang mengintegrasikan drone tempur semiotonom bersama pesawat tempur generasi keempat dan kelima.

Langkah tersebut menjadi tahapan baru setelah prototipe YFQ-44A Fury buatan Anduril sebelumnya telah terbang dalam formasi bersama pesawat tempur siluman F-35 dalam pengujian Angkatan Udara AS. Dalam Emerald Flag, fokusnya akan bergeser dari sekadar terbang bersama menuju integrasi kekuatan udara yang lebih lengkap, mulai dari komunikasi, komando dan kendali, pelaksanaan misi, hingga bagaimana manusia membangun kepercayaan terhadap pesawat tempur yang menjalankan sebagian tugasnya secara otonom.

Baca Juga

Direktur Operasi Experimental Operations Unit (EOU) di Pangkalan Angkatan Udara Nellis, Letnan Kolonel Lyndon “OTTO” Bartlett, mengatakan Angkatan Udara belum pernah membawa CCA ke latihan large-force employment secara nyata.

“Yang pertama akan dilakukan di Emerald Flag. Itu akan dilaksanakan pada Desember,” kata Bartlett dalam Air, Space & Cyber Conference 2026, sebagaimana diberitakan The War Zone (TWZ) pada Selasa, 15 September 2026. Ia menyebut latihan tersebut sebagai langkah awal menuju integrasi kekuatan yang sesungguhnya.

EOU selama ini memimpin eksperimen operasional terhadap dua kandidat utama CCA, yakni FQ-42 Vengeance buatan General Atomics dan FQ-44 Fury buatan Anduril. Angkatan Udara AS pada Juni memutuskan armada CCA operasional awalnya akan terdiri atas campuran kedua jenis pesawat tersebut.

Fury Sudah Terbang Bersama F-35

Meski integrasi dalam latihan besar baru dilakukan pada Desember, penerbangan bersama F-35 sebenarnya telah dimulai. TWZ melaporkan pada Senin, 14 September 2026, YFQ-44A Fury telah terbang dalam formasi bersama F-35 dalam pengujian Angkatan Udara AS.

Anduril mengatakan penerbangan tersebut berlangsung dalam latihan Agile Combat Employment di Pangkalan Angkatan Udara Creech, Nevada, pada Juli. Dalam penerbangan itu, Fury dan F-35 terbang bersama, tetapi pilot F-35 belum secara langsung mengendalikan drone tersebut.

Perusahaan kini bergerak menuju tahap yang lebih kompleks. Jason Levin, Wakil Presiden Senior Air Dominance and Strike Anduril, mengatakan perusahaan sudah memulai pengujian yang disebut quarterback integration. Dalam konsep tersebut, awak pesawat tempur berawak nantinya dapat memberikan perintah kepada drone melalui antarmuka seperti tablet.

Breaking Defense melaporkan pada Selasa, 15 September 2026, Anduril telah menguji integrasi itu melalui simulasi perangkat keras dan perangkat lunak serta pada pesawatnya sendiri. Demonstrasi lanjutan diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan atau bulan berikutnya.

Artinya, konsepnya bukan sekadar sebuah F-35 terbang ditemani drone. CCA dirancang agar dapat menjadi bagian dari satu paket tempur, menerima tujuan misi, menjalankan tugas tertentu dengan otonomi tinggi, dan memperluas kemampuan pesawat berawak tanpa menempatkan pilot tambahan dalam risiko.

Desember Jadi Ujian Integrasi Sesungguhnya

Emerald Flag mempunyai arti penting karena latihan tersebut sejak awal digunakan Angkatan Udara AS untuk menguji jaringan tempur, arsitektur komunikasi, serta sistem komando dan kendali baru.

Bartlett mengatakan latihan Desember akan menjadi pertama kalinya Angkatan Udara menjalankan demonstrasi rantai CCA secara langsung dari ujung ke ujung. Drone akan masuk dalam dorongan operasi udara ofensif yang menggabungkan pesawat generasi keempat dan kelima.

“Ini akan berskala kecil,” kata Bartlett sebagaimana diberitakan TWZ pada Selasa, 15 September 2026. Namun, menurutnya, pengujian seperti itulah yang akan membangun sesuatu yang sulit diperoleh hanya melalui simulasi: kepercayaan terhadap CCA.

Kepercayaan menjadi isu penting karena CCA tidak dirancang seperti MQ-9 Reaper yang secara konvensional diterbangkan operator dari stasiun kontrol darat. Bartlett menegaskan pesawat tersebut bukan remotely piloted aircraft.

“Pesawat-pesawat ini tidak memiliki pilot,” ujarnya. CCA menggunakan agen otonomi misi untuk menjalankan sebagian tugasnya, sehingga kebijakan penerbangan, komando, dan interaksi dengan pengendalian lalu lintas udara harus disusun ulang.

Meski demikian, istilah “otonom” tidak berarti pesawat bebas mengambil seluruh keputusan penggunaan kekuatan tanpa manusia. Program yang sedang diuji Angkatan Udara AS berfokus pada mission autonomy, kemampuan sistem menjalankan tugas yang diberikan dalam parameter tertentu, dan bagaimana manusia tetap mengawasi serta mengarahkan misi tersebut.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi