Kamis 17 Sep 2026 17:46 WIB

Arab Saudi 'Terisolasi', AS Diam-Diam Buat Kesepakatan dengan Houthi Usai Trump Tolak Permintaan MBS

Trump pekan lalu dilaporkan menolak permintaan perlidungan dari Pangeran MBS.

Kelompok militan Houthi mendukung Iran lewat aksi massa di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).
Foto: EPA/Yahya Ahrab
Kelompok militan Houthi mendukung Iran lewat aksi massa di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, MUSCAT -- Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) dilaporkan Reuters, Rabu (16/9/2026), bertemu dengan perwakilan dari militan Ansarallah Yaman atau yang dikenal sebagai Houthi di Oman pada akhir pekan lalu. Pertemuan itu digelar beberapa hari setelah Houthi menguasai wilayah pantai Laut Merah dari tangan pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi.

Pertemuan yang tidak diumumkan ke publik itu dikabarkan digelar di Kedutaan Besar AS di Muscat, menurut tiga sumber yang berbicara secara anonim. Dua sumber mengatakan bahwa pemerintah Oman ikut membantu mengatur pertemuan itu.

Baca Juga

Dalam pertemuan itu, seperti yang diungkapkan oleh satu sumber terjadi pada Ahad (12/9/2026), perwakilan Houthi mengatakan kepada pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika dan mereka tetap berkomitmen atas kesepakatan gencatan senjata 2025.

Satu sumber, seorang Yaman, mengatakan bahwa kelompok milisi juga mengatakan mereka tidak akan menyerang kapal-kapal Israel atau kapal komersial lain kecuali milik Arab Saudi. Menurut dua sumber lain, pejabat AS yang hadir dalam pertemuan itu berasal dari kalangan personel kedutaan.

Sumber Reuters juga menyebutkan bahwa di antara delegasi Houthi yang hadir dalam pertemuan itu adalah seorang pejabat senior yang masih berstatus disanksi AS, yakni Mohammad Abdulsalam. Ia dilaporkan bersama pejabat Abdelmalik al-Ajiri saat menghadiri pertemuan dengan pejabat AS.

Pemerintah Trump mendefinisikan Houthi sebagai sebuah "organisasi teroris asing" pada Maret 2025 dan mengkriminalisasi dukungan terhadap kelompok itu. Namun demikian, AS tetap menjalin komunikasi dengan Houthi sejak saat itu dan mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Mei 2025 setelah kampanye pengeboman selama dua bulan untuk menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu mengeklaim bahwa pihak Houthi menghubungi pemerintahannya dan meminta AS untuk tidak terlibat di perang Yaman. Wakil Presiden AS JD Vance pada Senin (14/9/2026) mengatakan bahwa AS berkomunikasi secara tidak langsung dengan Houthi, tanpa memberikan detail.

Kementerian Luar Negeri AS enggan mengomentari laporan pertemuan Houthi dan pejabat AS di Oman. "Kami tidak berkomentar atas pertemuan spesifik yang dilaporkan itu." Adapun, kedutaan Oman di AS dan pejabat senior Houthi, Mohammad Abdulsalamtidak merespons permintaan klarifikasi Reuters.

 

sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti
Berita Lainnya

Rekomendasi