Jumat 11 Sep 2026 06:25 WIB

'Mereka yang Hilang Itu Orang-Orang Baik'

Kawan-kawan jurnalis dan awak kapal yang hilang di Selat Sunda masih setia menunggu.

Sejumlah wartawan dari berbagai organisasi, seperti PFI, PWI dan IJTI, bersama Polres serta Pemkot Depok menggelar doa bersama di Depok Open Space, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026). Doa bersama digelar sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sesama insan pers, agar kelima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Selain itu, doa bersama juga ditujukan agar keluarga yang menanti diberikan kekuatan dan ketabahan.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah wartawan dari berbagai organisasi, seperti PFI, PWI dan IJTI, bersama Polres serta Pemkot Depok menggelar doa bersama di Depok Open Space, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026). Doa bersama digelar sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sesama insan pers, agar kelima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Selain itu, doa bersama juga ditujukan agar keluarga yang menanti diberikan kekuatan dan ketabahan.

Oleh Jurnalis Republika Fitriyan Zamzami dari Banten

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Nyala Gunung Anak Krakatau terlihat samar-samar di lautan dari tepian Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang Banten itu malam. Ia berpijar sebentar lewat tengah malam, kemudian redup lagi. Kilat turun lekas dari langit. Dingin angin selatan menyambar-nyambar. 

Baca Juga

Empat sekawan warga tempatan itu masih bertahan mengobrol saat pos terpadu pencarian sejumlah pewarta foto dan awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda mulai sepi ditinggal tidur. Sementara, tak ada keriuhan seperti sepanjang hari.

“Kalau Bonsai datang pasti lebih ramai ini,” kata Angga, yang termuda di antara mereka saat ditemui Republika, Jumat (11/9/2026 malam itu. 

Mereka mengenang bagaimana, Heriyanto, guide yang ikut serta dalam kapal yang hilang adalah pribadi yang semarak dan suka bercanda.

“Suka cerita orangnya, makanya turis suka ikut dia,” ujar Sosa, yang paling tua di sekawan itu. “ Dia guide nomor satu lah di sini,” Arbi menimpali.

Kondisi belakangan, mereka mengenang, tak lepas dari yang terjadi pada Jumat sekitar pukul 23.00 malam pekan lalu. “Itu tiba-tiba ada ledakan besar seperti ban meledak,” Wildan, anggota lain kumpulan itu bercerita.

photo
Istri kapten kapal Warta, Janah (tengah) menangis saat menanti kabar suaminya yang hilang kontak di Dermaga Marina Lippo Carita, Pandeglang, Banten, Rabu (9/9/2026). - (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Yang menyusul kemudian adalah getaran tiada henti selama 25 jam. “Kaca di rumah nggak berhenti berguncang. Kadang pelan, terus kencang lagi,” kata Sosa. Dentuman-dentuman yang lebih jinak dari yang perdana terus berulang. 

Abu menguar dari Anak Krakatau ditingkahi kilatan-kilatan petir. Para orang tua lekas diungsikan ke wilayah yang lebih tinggi. “Mencekam sekali 25 jam itu,” kata Angga.

Bagi Sosa, aktifnya Anak Krakatau memicu lagi kenangan lama yang tak menyenangkan. Pada 2018 lalu, ia sempat tergulung ombak saat luruhan Anak Krakatau memicu tsunami di wilayah tersebut. Ia kala itu tengah mengambil gambar untuk helatan selancar tahunan di Carita. “Kalau tidak pegangan dan naik ke jembatan sudah lewat saya,” ia berkisah.

Lepas saat-saat mencekam pekan lalu itu, kabut menyelimuti langit di Selat Sunda. Angin kencang berhembus. “Makanya kita heran waktu ada yang mau melaut ambil gambar,” ujar Arbi. 

Ia yang mantan fotografer itu mengerti bagaimana insting kerap memicu jurnalis mendekati bahaya. Tapi sebagai warga tempatan, Arbi juga tahu medan.

Para pewarta foto, kata dia, berniat bertolak selepas siang, Senin (7/9/2026). Di antara mereka ada M Bagus Khoirunnas, fotografer Antara Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis Anadolu; dan Donal, jurnalis freelance.

Awalnya, kata Arbi, tak ada kapten kapal dan guide yang bersedia mengantar. Terlebih mengingat jadwal keberangkatan yang sudah menjelang sore. Pada akhirnya, seorang kapten kapal, Warta; anak buah kapal (ABK), Surahman; dan Bonsai bersedia. “Mereka ini sudah yang paling senior di sini,” kata Arbi.

Warta sudah ternama kemampuan mengemudikan speedboatnya. Sementara Bonsai tak hanya berbekal pribadi yang menyenangkan. Ia pandai menenangkan turis dan punya bekal kemampuan menyintas jika terdampar. Mereka berdua punya sertifikat di bidangnya masing-masing.

Pukul 14.00, perahu bertolak dari Carita menuju Anak Krakatau mencari spot mengambil gambar yang lebih dekat dan dramatis. Pukul 18.13 Bonsai sempat mengirimkan gambar menunjukkan rombongan telah tiba hanya berjarak kurang dari sekilometer dari Anak Krakatau. Habis itu tak ada lagi komunikasi.

Kata Sosa, seorang nelayan sempat menemui kapal yang sudah dalam perjalanan pulang pada sore hari itu. Sang nelayan menyarankan perjalanan tak diteruskan karena ombak tinggi dan angin selatan yang bertiup kencang. Biasanya, dalam kondisi itu para nelayan menepi dulu ke pulau terdekat ketimbang melawan ombak dan angin. Tak ada yang tahu apakah saran nelayan itu ditaati kapten kapal atau tidak.

Sejak itu sampai Jumat ini, tak diketahui bagaimana nasib rombongan tersebut. Yang ada sementara adalah perkiraan-perkiraan soal kemana raibnya kapal tersebut. Yang ada sementara adalah doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan para penumpang dan awaknya. 

“Mudah-mudahan selamat, mereka orang-orang baik, Mas,” kata Wildan.

Berita Lainnya

Rekomendasi