Senin 07 Sep 2026 15:07 WIB

Partai AfD yang Anti-Islam dan Pro-Israel Menang Pemilu di Jerman

Kebangkitan partai sayap kanan di Jerman memicu kekhawatiran di Eropa.

Para peserta memegang poster anti-AfD di depan Katedral Magdeburg, Jerman, pada 5 September 2026.
Foto: EPA/CLEMENS BILAN
Para peserta memegang poster anti-AfD di depan Katedral Magdeburg, Jerman, pada 5 September 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang beraliran sayap kanan dan pro-Israel telah memenangkan pemilu negara bagian di Saxony-Anhalt. Ini menjadikan partai tersebut dapat memerintah negara Jerman untuk pertama kalinya sejak berakhirnya periode Nazi.

AfD memperoleh 44,5 persen suara, menurut exit poll ARD, lebih dari dua kali lipat perolehan suara pada tahun 2021. Partai Kristen Demokrat yang konservatif pimpinan Kanselir Friedrich Merz tertinggal jauh dengan perolehan 18,5 persen.

Reuters melaporkan jumlah pemilih sekitar 76 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pemilu di negara bagian Jerman. “Kami telah membuat sejarah di negara ini,” kata Ulrich Siegmund, kandidat utama AfD berusia 35 tahun di Saxony-Anhalt, kepada Reuters.

Masih belum jelas apakah AfD dapat memperoleh cukup kursi atau mendapatkan dukungan politik yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan negara bagian.

Hasil tersebut telah memicu kekhawatiran serius di Prancis. Jean-Luc Mélenchon, salah satu politisi oposisi terkemuka di negara itu, memperingatkan melalui platform X bahwa "sayap kanan jauh telah kembali di Jerman".

Menyebut hasil tersebut sebagai sebuah "bencana", Mélenchon menambahkan bahwa "dalam kondisi seperti ini, proyek militer Jerman untuk membentuk angkatan darat konvensional pertama Eropa tidak dapat diterima oleh Prancis."

photo
Warga bereaksi terhadap hasil jajak pendapat saat acara penghitungan suara partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) menyusul pemilihan umum negara bagian Saxony-Anhalt di Magdeburg, Jerman, 6 September 2026. - (EPA/FILIP SINGER)

Status AfD sebagai partai sayap kanan jauh tidak menghalangi anggota pemerintah Israel untuk mempertimbangkannya sebagai mitra politik potensial.

Pada Februari 2025, Menteri Urusan Diaspora Israel, Amichai Chikli, memuji partai yang anti-Islam dan anti-Palestina tersebut karena menyasar kelompok-kelompok yang mengampanyekan hak-hak Palestina.

Chikli mengatakan bahwa, "secara mengejutkan", AfD telah memimpin upaya untuk menentang dukungan Jerman terhadap organisasi-organisasi yang kritis terhadap Israel.

"AfD pula yang menginisiasi rancangan undang-undang pada April 2019 yang menyerukan pelarangan gerakan BDS yang antisemit... Pada Juni 2019, AfD juga mengusulkan pelarangan total terhadap aktivitas Hizbullah di Jerman," tulis Chikli dalam sebuah unggahan di X pada saat itu.

Pimpinan AfD berupaya menampilkan partai tersebut sebagai pendukung setia Israel, meskipun kerap muncul pernyataan antisemit dan revisionis Holocaust dari tokoh-tokoh di dalam partai itu sendiri.

Dalam percakapan dengan Elon Musk pada Januari 2025, salah satu pemimpin AfD, Alice Weidel, menggambarkan partainya sebagai "satu-satunya pelindung bagi orang Yahudi" di Jerman.

Weidel mengaitkan dukungan AfD terhadap Israel secara langsung dengan kampanye partai tersebut yang menentang Muslim dan imigrasi, serta memosisikan negara Israel sebagai mitra dalam konfrontasi partai itu yang lebih luas terhadap Islam dan umat Muslim.

Berita Lainnya

Rekomendasi