Selasa 04 Aug 2026 13:57 WIB

BMKG: Juli 2026 Menjadi Juli Terkering Sejak 1991

Hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT alami curah hujan rendah pada Juli 2026

Warga mengambil air dari tandon yang disalurkan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang di Jabungan, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/8/2026). Pemerintah Kota Semarang menyiagakan 900 ribu liter air bersih untuk mengantisipasi dampak kekeringan selama musim kemarau, sementara hingga akhir Juli 2026 sekitar 48 ribu liter telah didistribusikan kepada warga terdampak di empat wilayah rawan kekeringan, yakni Kelurahan Jabungan, Rowosari, Gondoriyo, dan Gedawang.
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Warga mengambil air dari tandon yang disalurkan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang di Jabungan, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/8/2026). Pemerintah Kota Semarang menyiagakan 900 ribu liter air bersih untuk mengantisipasi dampak kekeringan selama musim kemarau, sementara hingga akhir Juli 2026 sekitar 48 ribu liter telah didistribusikan kepada warga terdampak di empat wilayah rawan kekeringan, yakni Kelurahan Jabungan, Rowosari, Gondoriyo, dan Gedawang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering di Indonesia sejak 1991. Hal itu terlihat berdasarkan rata-rata curah hujan nasional, seiring menguatnya El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Fachri Radjab mengatakan berdasarkan analisis BMKG, rata-rata curah hujan nasional pada Juli 2026 menempati peringkat pertama sebagai bulan Juli terkering sejak pencatatan pada 1991.

Baca Juga

"Di bulan Juni, curah hujan rata-rata wilayah Indonesia berada pada peringkat kedelapan terkering sejak 1991. Namun pada Juli, ternyata Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering peringkat pertama sejak 1991," kata Fachri.

Ia menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya El Nino yang telah mencapai kategori kuat serta berkembangnya fenomena IOD positif di Samudra Hindia yang sama-sama berkontribusi mengurangi curah hujan di Indonesia.

Menurut dia, El Nino saat ini berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat dengan peluang sekitar 75 persen pada Agustus hingga Oktober 2026.

Sementara itu, IOD positif juga diperkirakan terus berkembang sehingga memperkuat pengurangan curah hujan selama musim kemarau.

“Ini mungkin yang perlu menjadi antisipasi kita ketika dua fenomena ini aktif, baik di sisi timur maupun sisi barat Indonesia, dan sama-sama berpotensi mengurangi curah hujan selama periode musim kemarau ini,” ujarnya.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi