REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengungkap insfrastruktur pengendali banjir yang ada di Ibu Kota masih belum sepenuhnya mampu menghadapi curah hujan ekstrem. Alhasil, bencana banjir masih kerap terjadi di Jakarta, meski hujan turun hanya dalam waktu singkat.
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengatakan pihaknya telah memiliki berbagai infrastruktur pengendali banjir, mulai dari pompa air, tanggul sungai, saluran drainase, hingga waduk, situ, atau embung. Berbagai infrastruktur itu dibangun dengan kapasitas desain atau kemampuan menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari curah hujan dengan besaran tertentu.
"Kapasitas desain ini ditentukan dari probabilitas curah hujan yang terjadi, di Jakarta kapasitas desain yang digunakan yaitu 100-150 mm," kata Ika di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Meski begitu, sambung dia, dalam beberapa tahun belakangan karena terjadi perubahan iklim. Alhasil, curah hujan yang terjadi cenderung tinggi dan ekstrem yaitu 150-250 mm langsung memicu genangan hingga banjir.
"Jadi, pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta efektif untuk curah hujan 100-150 mm, sedangkan untuk curah hujan yg lebih tinggi lagi dibutuhkan kapasitas infrastruktur yang lebih besar," kata Ika.
Menurut Ika, peningkatan kapasitas infrastruktur pengendali banjir membutuhkan kebutuhan lahan dan biaya pembangunan yang jauh lebih besar. Meski begitu, Pemprov DKI Jakarta tetap melakukan upaya untuk mengatasi banjir di Ibu Kota, salah satunya adalah dengan menyediakan pompa stasioner dan pompa mobile.




