REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengancam akan “meledakkan” Oman. Hal tersebut ia sampaikan terkait proposal Iran agar perlintasan Selat Hormuz dikendalikan bersama dengan Oman.
Presiden AS melontarkan ancaman tersebut setelah adanya laporan mengenai perundingan antara Iran dan Oman mengenai tarif bersama bagi kapal-kapal yang melewati jalur air penting tersebut, yang telah ditutup sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran.
“Selat ini akan terbuka untuk semua orang,” kata Trump pada Selasa waktu AS, dilansir the Guardian. "Tidak ada yang akan mengendalikannya. Kami akan mengawasinya. Kami akan mengawasinya. Tapi tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu adalah bagian dari negosiasi yang kami lakukan.”
Patut dicatat, Iran dan Oman yang zona ekonomi eksklusifnya bersinggungan di titik tersempit Selat Hormuz sejak lama membebaskan pelayaran melintasi perairan itu. Justru serangan AS-Israel ke Iran yang belakangan memicu penutupan jalur laut penting dunia tersebut.
Teheran ingin membujuk Oman, sekutu AS, untuk mendukung mekanisme pengumpulan tarif dari kapal-kapal yang transit melalui selat tersebut, demikian yang dilaporkan Associated Press dalam beberapa hari terakhir, mengutip seorang pejabat regional. “Mereka ingin mengendalikannya,” kata Trump, yang menekankan bahwa selat itu adalah bagian dari perairan internasional.
“Oman akan berperilaku sama seperti orang lain. Atau kita harus meledakkan mereka. Mereka memahami hal itu. Mereka akan baik-baik saja."
Upaya Trump dalam beberapa pekan terakhir untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran sejauh ini gagal membuahkan hasil. Dalam pertemuan hari Rabu, ia menuduh Iran berusaha untuk menunda perjanjian tersebut dan “menunggu saya” sampai pemilu paruh waktu di AS pada bulan November.
Ketika Trump memberi isyarat bahwa dia hampir mencapai kesepakatan pada akhir pekan, para pendukung Partai Republik yang sangat mendukung keputusan kontroversialnya untuk memerintahkan perang terhadap Iran bersama Israel mengeluarkan teguran yang jarang terjadi. Roger Wicker, ketua komite angkatan bersenjata Senat, mengatakan “gencatan senjata 60 hari yang dikabarkan” akan menjadi “bencana” dalam sebuah postingan di media sosial. “Segala sesuatu yang dicapai melalui Operasi Epic Fury akan sia-sia,” tambahnya.