REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran memperingatkan Prancis dan Inggris agar tak mengerahkan kapal perang mereka ke Selat Hormuz. Iran menekankan siap mengambil respons tegas dan segera jika terdapat kapal perang yang memasuki wilayah perairan selat tersebut.
"Kami mengingatkan mereka bahwa baik di masa perang maupun di masa damai, hanya Republik Islam Iran yang dapat menegakkan keamanan di selat ini dan tidak akan mengizinkan negara mana pun untuk ikut campur dalam masalah tersebut,” ungkap Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi lewat akun X-nya, Ahad (10/5/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Prancis telah mengarahkan kapal induk Charles de Gaulle ke selatan Terusan Suez dan Laut Merah. Langkah tersebut sebagai persiapan kemungkinan misi yang bertujuan memulihkan kepercayaan para pemilik kapal komersial yang beroperasi di Selat Hormuz.
Inggris pun telah mengerahkan kapal perang HMS Dragon miliknya ke Timur Tengah. Kapal tersebut turut dipersiapkan untuk kemungkinan misi di Selat Hormuz.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memimpin misi multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Mereka mengeklaim, misi tersebut sepenuhnya defensif dan akan dilaksanakan hanya ketika Amerika Serikat (AS)-Iran mencapai kesepakatan damai.
Saat memberikan keterangan pers di Nairobi, Kenya, pada Ahad, Macron mengatakan, dia tak pernah memproyeksikan pengerahan Angkatan Laut Prancis ke Selat Hormuz. Dia mengungkapkan, misi yang hendak dilaksanakan Prancis di wilayah perairan tersebut akan tetap dikoordinasikan dengan Iran.
Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perang dengan Iran belum akan berakhir jika negara tersebut masih memiliki uranium yang diperkaya. “Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir—uranium yang diperkaya—yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam cuplikan wawancara yang akan ditayangkan Ahad sore di program “60 Minutes” CBS.
Netanyanu pun sempat ditanya bagaimana cara merebut uranium milik Iran. "Anda masuk dan Anda mengambilnya,” ujarnya menjawab pertanyaan tersebut.
Netanyahu mengeklaim bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki posisi serupa. “Saya tidak akan berbicara tentang cara militer, tetapi presiden, apa yang dikatakan Presiden Trump kepada saya—‘Saya ingin masuk ke sana'," ucapnya.
Sementara itu Trump tengah menghadapi gelombang tekanan domestik untuk mengakhiri perang dengan Iran. Dia mengeklaim bahwa program nuklir Iran telah terkendali.
Dalam sebuah rekaman wawancara yang ditayangkan pada Ahad, Trump mengatakan bahwa Iran telah "dikalahkan secara militer". Trump pun meyakinkan publik bahwa uranium milik Iran dapat dipindahkan kapanpun AS menghendaki.
"Kita akan mendapatkannya suatu saat nanti, kapan pun kita mau. Kita akan mengawasinya," katanya kepada jurnalis televisi independen Sharyl Attkisson.
"Kami mengawasinya dengan sangat baik. Jika ada yang mendekati tempat itu, kita akan mengetahuinya dan kita akan meledakkannya," tambah Trump.