Sabtu 02 May 2026 08:01 WIB

Taman Siswa, Legasi Ki Hajar Dewantara

Pendidikan yang ideal membebaskan murid dari mental terjajah dan mental kolonial.

Perguruan Tamansiswa di Jalan Tamansiswa, Yogyakarta, DIY.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Perguruan Tamansiswa di Jalan Tamansiswa, Yogyakarta, DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanggal kini, 2 Mei, merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Itu bertepatan dengan hari kelahiran tokoh pendidikan yang juga seorang pahlawan nasional, Ki Hajar Dewantara (1889-1959).

Semasa mudanya, sosok yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat itu menempuh pendidikan di sekolah formal bentukan pemerintah kolonial Belanda. Sempat belajar di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), tetapi tidak sampai tamat.

Baca Juga

Walaupun dididik antara lain dengan pola pengajaran Barat, rasa cinta dan nasionalismenya amatlah besar untuk Tanah Air. Saat menjadi jurnalis, begitu keluar dari STOVIA, ia pernah menghebohkan pemerintah kolonial karena tulisannya, "Als ik een Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), terbit di surat kabar De Expres Juli 1913.

Melalui artikel itu, RM Soewardi Soerjaningrat menyindir keputusan pemerintah Hindia Belanda yang memungut uang dari rakyat pribumi untuk merayakan hari kemerdekaan Belanda dari Prancis. Bagi rezim saat itu, karyanya tersebut telah menghina ratu Belanda dan mengganggu ketertiban (rust en orde) di tengah masyarakat.

Akibatnya, RM Soewardi Soerjaningrat ditangkap dan lalu dibuang ke Belanda, bersama sejumlah kawan seperjuangannya. Sekira enam tahun lamanya, ia dan istrinya berstatus pengasingan di negara Eropa tersebut.

Masa itu tidak selalu suram. Bagi RM Soewardi Soerjaningrat, selama di Belanda dirinya memanfaatkan kesempatan untuk belajar, terutama mengenai pendidikan. Ia percaya, hanya dengan jalan pendidikan, bangsa Indonesia dapat bangkit dan merdeka dari penjajahan.

Pada September 1919, RM Soewardi Soerjaningrat dan istri kembali ke Tanah Air. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa atau National Onderwijs Instituut “Taman Siswa” di Yogyakarta. Pendirian lembaga ini merupakan bagian dari gerakan kebudayaan nasionalis kaum terpelajar Indonesia pada masa itu. Sebab, sang pendirinya membawa semangat membangun budaya nasional untuk menandingi budaya kolonial yang mendominasi Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement