Oleh Bayu Adji P
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Memilih daycare yang bagus bukan perkara yang mudah di Indonesia. Tak ada mekanisme perizinan yang transparan dan kurangnya standardisasi serta pengawasan mempersulit hal itu.
Terkait hal ini, Republika mencoba berbincang dengan sejumlah orang tua yang menitipkan anaknya ke daycare. Indiana Malia (33 tahun) salah satunya.
Ibu satu anak itu mengaku memiliki berbagai alasan menitipkan anaknya ke daycare. Salah satunya adalah kondisi baby blues yang dialaminya pascamelahirkan, sehingga ia memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan pernah juga terlintas untuk menyakiti anaknya.
"Berkali-kali gue melakukan tindakan menyakiti diri sendiri, dan berkali-kali pula kepikiran nyakitin anak gue, tapi untungnya gue masih cukup waras untuk nggak nyakitin bayi," kata dia kepada Republika.
Ia juga mengaku pernah meminta bantuan profesional. Namun, upaya itu tidak berdampak banyak. Ia tetap merasa sendiri dalam mengurus anak. Apalagi, suaminya ketika itu bekerja dari pagi hingga sore, dilanjutkan dengan kuliah secara daring pada malam harinya.
Puncaknya, perempuan yang tinggal di Depok itu sampai harus masuk rumah sakit karena kelelahan hingga dirawat selama dua pekan. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk fokus merawat anak.
Meski begitu, keputusan tersebut tidak membuatnya tenang karena sudah terbiasa bekerja. Ia pun memutuskan untuk mempekerjakan pengasuh untuk mengurus anaknya. Namun, berurusan dengan pengasuh tidak membuat hidupnya lebih tenang.
"Sebenarnya waktu itu udah berkali-kali coba hire nanny, tapi ada aja dramanya. Terakhir itu dia kabur, minjem duit jutaan kagak dibalikin, trauma dah gue pake nanny," kata dia.
Berbagai pertimbangan itulah yang membuat Indiana memutuskan untuk menitipkan anaknya ke daycare. Ia pun mulai secara selektif mencari daycare yang terpercaya, mulai dari melihat rekam jejak pemilik, mengecek legalitas, hingga sistem pengawasan dengan CCTV secara realtime di daycare tersebut.
"Gue masukin anak pas usianya mau dua tahun jadi udah bisa ngomong lah. Milih daycare emang harus hati-hati, karena kan nitipin anak kecil yang notabene masih di bawah kendali orang dewasa dan secara fisik juga gak bisa ngelawan kalo kenapa-napa," kata dia.
Ketika itu, Indiana juga sempat hendak menitipkan anaknya di daycare Wensen School Indonesia, yang belakangan terungkap kasus kekerasan di dalamnya. Namun, perasaannya sebagai seorang ibu membuatnya membatalkan keinginannya itu. "Ada perasaan berat naruh di situ, jadi gue cuma trial doang, terus nggak lanjut," ujar dia.
Dalam sebulan pertama, Indiana mengaku selalu memantau perkembangan anaknya melalui CCTV. Termasuk kondisi fisiknya selalu dipantau olehnya setiap hari. Saat ini ia mengaku telah percaya dengan daycare tempat anaknya dititipkan karena selalu ada laporannya. Terlebih, perkembangan anaknya juga optimal selama dititipkan ke daycare. Alhasil, ia bisa kembali bekerja dengan tenang.
Meski begitu, ia berharap pemerintah dapat terus melakukan pengawasan terhadap operasional daycare. Mengingat, kasus kekerasan terhadap anak di daycare masih juga terjadi. Sementara kebutuhan keluarga akan daycare terus meningkat.
"Perketat soal perizinanlah. Berdayakan RT/RW buat ikut ngawasin lingkungannya, kalau ada daycare tanpa izin bisa laporin, buat mencegah hal yang tidak diinginkan," kata dia.
Tak hanya itu, ia juga mendorong pemerintah untuk mewajibkan fasilitas perkantoran menyediakan daycare dengan harga terjangkau. Pasalnya, biaya daycare di lingkungan perkantoran saat ini dinilai sangat mahal dan tidak sebanding dengan upah pekerja.
"Gue dah survei banyak daycare, Jakarta itu udah di atas Rp 4 juta tahun 2021. Kalau daycare anak gue masih kisaran Rp 2,5 juta buat balita, kalau buat bayi kisaran Rp 3 juta," ujar Indiana.