Ahad 19 Apr 2026 12:03 WIB

Pentagon Hadapi Musuh Baru: Sistemnya Sendiri

Ahli memandang pentagon tertinggal jauh.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Pentagon di Arlington, Virginia, AS, (12/042023). Dokumen militer rahasia yang bocor secara online menimbulkan risiko yang sangat serius bagi keamanan nasional, menurut pejabat Pentagon. Itu termasuk dokumen yang merinci penilaian AS atas perang di Ukraina.
Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Pentagon di Arlington, Virginia, AS, (12/042023). Dokumen militer rahasia yang bocor secara online menimbulkan risiko yang sangat serius bagi keamanan nasional, menurut pejabat Pentagon. Itu termasuk dokumen yang merinci penilaian AS atas perang di Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia pertahanan global tengah bergerak ke arah yang semakin tidak terduga. Ancaman tidak lagi datang dalam bentuk konvensional, melainkan melalui teknologi yang bergerak cepat, drone, kecerdasan buatan, dan sistem otonom. Di tengah perubahan ini, Amerika Serikat menghadapi satu pertanyaan mendasar: apakah Pentagon mampu beradaptasi dengan kecepatan zaman?

Tulisan oleh Chris Beauregard di DefenseScoop memberikan kritik tajam dari dalam ekosistem pertahanan itu sendiri. Ia memulai dengan premis yang sederhana namun menggugah: secara fungsional, Pentagon tidak berbeda dari konglomerat multinasional besar.

Baca Juga

Namun, menurut Beauregard, perbedaan bukan terletak pada apa yang dikerjakan, melainkan bagaimana cara melakukannya. Di sinilah masalah utama muncul, Pentagon menganggap kebutuhannya unik, dan karena itu membangun sistemnya sendiri, sering kali dengan biaya yang sangat besar.

Akibatnya, banyak sistem perangkat lunak internal justru menjadi penghambat produktivitas. Dibandingkan dengan solusi sektor swasta yang lebih cepat, murah, dan intuitif, sistem internal Pentagon dinilai tertinggal jauh.

Beauregard menyoroti sejumlah contoh konkret: proyek perangkat lunak bernilai miliaran dolar yang gagal memenuhi kebutuhan dasar pengguna. Dari sistem sumber daya manusia hingga platform perjalanan dinas, biaya yang membengkak tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Kritik ini mengarah pada satu solusi yang jelas: Pentagon harus berhenti membangun dari nol dan mulai mengadopsi pendekatan “beli sebelum membangun”. Dalam pandangan Beauregard, perangkat lunak komersial, terutama yang berbasis AI, sudah cukup matang untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan operasional.

Pendekatan ini tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang kecepatan. Dalam era di mana teknologi berkembang secara eksponensial, keterlambatan beberapa tahun saja dapat berarti kehilangan keunggulan strategis.

Sementara itu, laporan Reuters memberikan perspektif yang lebih eksternal namun tidak kalah tajam. Dalam salah satu laporannya, pelaku industri pertahanan secara terbuka mengkritik birokrasi Pentagon sebagai hambatan utama dalam merespons ancaman global.

Menurut laporan tersebut, kompleksitas sistem kontrak dan proses pengadaan membuat inovasi berjalan lambat. Bahkan ketika teknologi tersedia, implementasinya sering tertunda oleh prosedur yang berlapis-lapis.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement