Rabu 08 Apr 2026 16:05 WIB

Iran Mereda, Giliran Kuba Siap Perang Gerilya Lawan AS

Trump sebelumnya mengancam invasi Kuba setelah menyerang Venezuela dan Iran.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (kanan) mengenakan keffeyeh Palestina dari seorang pelajar saat pertemuan dengan pelajar Palestina di markas besar Istana Revolusi di Havana, Kuba, 17 November 2023.
Foto: EPA-EFE/Ernesto Mastrascusa
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (kanan) mengenakan keffeyeh Palestina dari seorang pelajar saat pertemuan dengan pelajar Palestina di markas besar Istana Revolusi di Havana, Kuba, 17 November 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan negaranya akan merespons dengan kampanye gerilya jika Amerika Serikat melancarkan serangan militer. Hal ini ia sampaikan menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump bahwa Kuba akan jadi sasaran selanjutnya setelah Iran.

Presiden Kuba memperingatkan Washington bahwa operasi apa pun akan mengakibatkan “kerugian besar” bagi kedua negara.Pernyataan pemimpin Kuba tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan majalah Newsweek di Havana pada hari Jumat dan diterbitkan Rabu. 

Baca Juga

Ini adalah wawancara pertamanya dengan media Amerika sejak 2023, dan merupakan respons terhadap ancaman Presiden Donald Trump untuk mencaplok “pulau komunis” yang hanya berjarak sekitar 145 kilometer dari Florida.

Ancaman Trump datang pada saat Kuba sedang menderita krisis ekonomi yang parah, dengan 10 juta warganya mengalami pemadaman listrik setiap hari di tengah krisis energi parah yang diperburuk oleh embargo AS terhadap pengiriman minyak ke pulau tersebut sejak Januari lalu.

Gedung Putih membenarkan pernyataan Trump dengan menyatakan bahwa Kuba menimbulkan "ancaman yang luar biasa" terhadap keamanan nasional AS, mengutip kebijakan komunis Havana, hubungannya dengan Rusia, China, dan Iran, serta dugaan hubungannya dengan Hamas dan Hizbullah. 

Para pejabat Kuba menyangkal adanya hubungan dengan organisasi-organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat itu. Blokade AS terhadap pulau tersebut menyebabkan melonjaknya harga pangan, kekurangan obat-obatan, dan protes anti-pemerintah yang jarang terjadi. Pemerintahan Trump secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan intervensi AS.

photo
Peta pergerakan militer AS di Laut Karibia pada November 2025. - (Reuters)

Setelah operasi militer di Venezuela dan Iran tahun ini, Trump menyatakan pada kesempatan terpisah bahwa Kuba akan menjadi "target berikutnya" dan bahwa ia mengharapkan "kehormatan untuk mengendalikan Kuba dengan cara apa pun."

Namun Diaz-Canel mengatakan pada Jumat bahwa negaranya, meskipun lebih memilih dialog, akan mempertahankan diri dengan kekuatan penuh “dengan partisipasi seluruh rakyat” jika Amerika Serikat melancarkan serangan.

"Kami akan selalu berusaha menghindari perang, dan kami akan selalu mengupayakan perdamaian. Namun jika agresi militer terjadi, kami akan membela diri, kami akan berperang, dan kami akan membela diri," kata dia

"Dan jika kami kalah dalam pertempuran, maka kematian bagi tanah air adalah kehidupan," mengacu pada slogan yang populer digunakan oleh mendiang pemimpin Kuba Fidel Castro, dan perang gerilya yang dilancarkan oleh kaum revolusioner Kuba.

 

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement