Senin 16 Mar 2026 13:55 WIB

Duel Bayangan CIA, Mossad, dan VEVAK di Balik Perang Iran-AS-Israel

Perang Iran melawan Israel-Amerika tak berhenti di medan tempur terbuka.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Foto: Reuters
Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di lorong-lorong sempit Kota Rey, selatan Teheran, matahari sore itu tak lebih terik dari biasanya. Tapi bagi dua pria yang tengah melangkah gontai dengan borgol di pergelangan tangan, dunia terasa runtuh dalam satu hentakan. Di sekitar mereka, petugas kepolisian Iran mengangkut barang bukti yang membuat bulu kuduk merinding: lebih dari 200 kilogram bahan peledak, 23 drone, sebuah peluncur, dan peralatan kendali canggih.

Ahad, 15 Juni tahun lalu, Iran kembali membuktikan apa yang selama ini menjadi rahasia umum: perang melawan musuh-musuhnya tidak pernah berhenti di medan tempur terbuka. Ia berlangsung setiap saat, di ruang-ruang sunyi yang tak terlihat mata.

Baca Juga

Dua agen Mossad yang ditangkap di distrik Rey itu, menurut juru bicara kepolisian Saeed Montazer al-Mahdi, bukan sekadar kurir biasa. Mereka adalah ujung tombak operasi Israel yang dirancang untuk meledakkan sesuatu dari dalam, bukan hanya dengan bom, tapi dengan kepanikan yang ditimbulkannya.

Penangkapan itu, kata pejabat Iran, bukan yang pertama. Setahun sebelumnya, di provinsi Alborz, utara Teheran, dua agen Mossad lain juga telah lebih dulu meringkuk di sel tahanan. Mereka terlibat dalam pembuatan bom dan bahan peledak, sebuah pengingat bahwa perang bayangan ini telah berlangsung lama, jauh sebelum dunia menyadarinya.

500 Mata-mata dan Sebuah Negeri yang Terkepung

Setahun kemudian, tepatnya pada Ahad (15/3/2026), Kepala keamanan Iran Ahmad Reza Radan berdiri di depan kamera dengan wajah datar. Ia mengumumkan sesuatu yang jika di negara lain akan menjadi gempa politik: sekitar 500 orang telah ditahan sebagai "mata-mata" yang bekerja untuk musuh dan media anti-Iran.

Dari jumlah itu, sekitar 250 orang disebut secara khusus memberikan data intelijen yang digunakan dalam operasi militer terhadap Iran. Mereka, kata Radan, tidak hanya mengirimkan informasi strategis, tapi juga berupaya mengganggu ketertiban umum di dalam negeri.

Bayangkan: setengah ribu manusia yang mungkin lahir dan besar di Iran, yang mungkin setiap hari melewati jalan-jalan Teheran yang sama, tiba-tiba menjadi mata-mata bagi musuh. Ini bukan cerita film spionase Hollywood. Ini adalah realitas pahit dari sebuah negara yang sejak revolusi 1979 merasa terus dikepung.

Dan pengepungan itu, bagi Iran, tidak pernah terasa sekonkret sekarang.

Ketika Langit Teheran Merah

Semua bermula pada 28 Februari, ketika langit ibu kota Iran mendadak memerah oleh ledakan. Pesawat-pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat menjatuhkan bom-bom mereka ke sejumlah target di jantung Republik Islam Iran.

Serangan itu bukan operasi terbatas. Ia menghantam beberapa wilayah, termasuk Teheran. Dan ketika debu mulai reda, jumlah korban membuat dunia menarik napas dalam-dalam: lebih dari 1.300 orang tewas. Di antaranya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang selama tiga dekade lebih menjadi simbol perlawanan Teheran terhadap Barat.

Iran membalas. Rudal-rudal balistik menghujani wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Tapi serangan balasan itu, meski dahsyat, tak mampu menyembunyikan satu fakta: pukulan pertama telah merenggut nyawa ribuan warga sipil, termasuk anak-anak sekolah di Kota Minab yang tak pernah tahu apa itu politik.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement