REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut perang dengan Iran “akan segera berakhir” dinilai tidak serta-merta mencerminkan realitas. Menurut Guru Besar Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Siti Muti’ah Setyawati, klaim tersebut lebih didasarkan pada anggapan terkait efektivitas serangan AS terhadap sejumlah target strategis di Iran.
Lebih-lebih, militer AS bekerja sama dengan Israel dapat menarget pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Ali Khamenei, yang gugur pada akhir Februari 2026 di Teheran. Serangan udara AS-Iran juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan penduduk sipil Iran.
"Pernyataan Trump bahwa perang akan berakhir didasarkan pada kehancuran di pihak Iran yang menjadi target Amerika, seperti kompleks pemerintahan di Teheran yang menyebabkan Ali Khameini beserta para petinggi Iran wafat. Kemudian, dihancurkannya sekolah sehingga membunuh para siswa," ujar Prof Siti Muti'ah kepada Republika, Rabu (11/3/2026).
Memang, lanjut dia, AS tampak semakin percaya diri (PD) dalam menggempur republik Islam tersebut. Washington merasa di atas angin, terutama sejak Inggris mempersilakan pangkalan militernya di Asia Barat untuk dipakai dalam operasi serangan terhadap Iran. Pengerahan pembom B-52 ikut mendukung penyerangan pada lebih dari 1.700 target di seluruh Iran dalam 72 jam pertama Operasi Epic Fury.