Oleh: Dedi Saputra S.Pd, M.Kom, Dosen Prodi Informatika UBSI Kampus Pontianak
REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Transformasi digital bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi realitas yang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Teknologi kini tidak hanya hadir dalam bentuk komputer atau ponsel pintar, juga tertanam dalam berbagai perangkat yang saling terhubung melalui jaringan internet.
Perubahan ini melahirkan paradigma baru dalam dunia teknologi yang dikenal sebagai Internet of Things (IoT). Konsep ini memungkinkan berbagai perangkat fisik, mulai dari sensor, mesin industri, hingga perangkat rumah tangga terhubung dan bertukar data secara otomatis melalui jaringan internet.
Istilah IoT pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada 1999. Ashton menjelaskan, IoT membuka kemungkinan bagi komputer mengamati dan memahami dunia nyata melalui sensor tanpa harus selalu bergantung pada intervensi manusia.
Dengan kata lain, dunia fisik dapat terhubung langsung dengan sistem digital. Sejak saat itu, perkembangan IoT berlangsung sangat pesat.
Penelitian oleh Luigi Atzori, Antonio Iera, dan Giacomo Morabito dalam jurnal Computer Networks (2010) menyebut IoT sebagai paradigma teknologi yang memungkinkan integrasi dunia fisik dengan jaringan informasi global melalui sistem sensor dan perangkat pintar.
Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu fondasi penting dari Revolusi Industri 4.0. Menurut Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, revolusi industri keempat ditandai integrasi teknologi digital, fisik, dan biologis yang mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi.
Dalam konteks ini, kemampuan memahami dan mengembangkan teknologi berbasis konektivitas seperti IoT menjadi salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Laporan McKinsey Global Institute (2015) bahkan memperkirakan teknologi IoT berpotensi memberikan dampak ekonomi global hingga 11 triliun dolar AS per tahun pada 2025 melalui peningkatan efisiensi, produktivitas, serta inovasi di berbagai sektor industri.
Realitas ini tentu menjadi tantangan bagi dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi tak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang memahami teori teknologi informasi juga mampu mengembangkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Di sinilah pentingnya kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global. Salah satu contohnya, langkah tersebut dapat dilihat pada Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak yang menjadikan Internet of Things sebagai salah satu mata kuliah unggulan.
Melalui mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep dasar IoT, juga diajak merancang dan mengembangkan sistem perangkat pintar secara langsung. Mahasiswa belajar memanfaatkan sensor, mikrokontroler, dan jaringan internet untuk membangun sistem monitoring berbasis data.
Proses pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman praktis yang sangat penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia industri yang semakin berbasis teknologi.
Pendekatan pembelajaran yang aplikatif juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Di wilayah seperti Kalimantan Barat, misalnya, teknologi IoT dapat dimanfaatkan untuk berbagai sektor seperti pertanian berbasis sensor, pemantauan kualitas air di sektor perikanan, hingga sistem monitoring lingkungan.
Penguasaan teknologi seperti IoT tidak hanya meningkatkan kesiapan lulusan dalam memasuki dunia kerja, tetapi juga membuka peluang bagi lahirnya inovator dan wirausaha digital baru.
Pada akhirnya, masa depan teknologi tidak hanya ditentukan seberapa cepat teknologi berkembang, juga kemampuan manusia untuk memanfaatkannya secara kreatif dan produktif. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi tersebut.
Dengan kurikulum yang adaptif dan pembelajaran yang aplikatif, kampus bisa menjadi ruang lahirnya inovasi teknologi yang kelak memberi kontribusi bagi masyarakat. Dan bisa jadi, inovasi teknologi berikutnya justru lahir dari ruang kelas kecil di sebuah kampus swasta UNGGUL di Pontianak.