REPUBLIKA.CO.ID,PYONGYANG — Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un mengungkapkan, peluncuran rudal kapal perusak Angkatan Laut Korea Utara yang dilakukan pekan lalu memicu analisis dari pemimpin tertinggi negara itu. Peluncuran tersebut, menurut Kim, merupakan bukti nyata bahwa mempersenjatai kapal perang dengan senjata nuklir tengah menunjukkan "kemajuan yang memuaskan".
Meski demikian, uji coba tersebut—bersama dengan penilaian Kim yang terkesan santai—dirancang untuk bergema jauh melampaui geladak kapal kelas perusak seberat 5.000 ton, Choe Hyon, yang merupakan kapal perang terbesar dalam armada Korea Utara saat ini, dilansir dari The Guardian.
Pernyataan tajam Kim mengenai senjata nuklir muncul di saat Amerika Serikat (AS) dan Israel melanjutkan pemboman udara terhadap Iran. Rezim Iran sendiri sebelumnya telah diperingatkan oleh Donald Trump, meski tanpa bukti kuat, hanya tinggal beberapa pekan lagi untuk memiliki senjata nuklir.
Meluasnya perang di Timur Tengah—dan ancaman eksistensial terhadap rezim Iran—diyakini telah memperkuat keputusan Korea Utara untuk membangun arsenal nuklir. Bagi Kim dan dinasti yang telah memerintah Korea Utara sejak didirikan oleh kakeknya pada 1948, program nuklir bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan soal kelangsungan hidup rezim.
“Kim pasti berpikir bahwa Iran diserang seperti itu karena tidak memiliki senjata nuklir,” ujar Song Seong-jong, profesor di Universitas Daejeon sekaligus mantan pejabat kementerian pertahanan Korea Selatan, menanggapi meletusnya konflik di Timur Tengah.