Banyak perusahaan industri kedelai di Brasil kini memalingkan muka dari upaya perlindungan hutan dan menarik diri dari yang disebut Moratorium Kedelai. Langkah ini dikhawatirkan akan memicu gelombang baru penebangan hutan hujan Amazon, demikian kritik para pegiat lingkungan.
Secara spesifik, asosiasi industri Brasil, ABIOVE, meninggalkan moratorium tersebut. Anggotanya termasuk raksasa agribisnis global seperti Cofco International, Bunge, Amaggi, dan JBS.
Tanpa dorongan ekonomi yang mendesak, perusahaan-perusahaan ini "dengan sengaja mengabaikan aturan yang jelas dan dapat dipahami demi keuntungan ekonomi jangka pendek, membuka kembali pintu bagi perusakan hutan," demikian bunyi pernyataan dari sejumlah organisasi lingkungan Brasil yang memantau kesepakatan tersebut.
Sebuah akhir dari moratorium ini diperkirakan dapat meningkatkan deforestasi di Amazon hingga 30 persen pada tahun 2045, demikian menurut studi awal dari Institut Penelitian Lingkungan Amazon Brasil (IPAM).
ABIOVE menyatakan kepada DW bahwa mereka akan tetap berpegang pada Kode Hutan Brasil sebagai standar ekologis dan sosial. Penarikan diri dari moratorium juga dimaksudkan untuk menjamin ekspor kedelai Brasil dan produk turunannya dalam jangka panjang.
Menurut WWF, 80 persen kedelai yang diproduksi dunia digunakan sebagai pakan ternak. Dengan demikian, konsumsi daging yang lebih sedikit secara langsung berkontribusi pada perlindungan hutan.
Moratorium yang terbukti efektif di kawasan yang diawasi
Bagi para pakar, kesepakatan ini sejauh ini efektif melindungi hutan dari penebangan. Hutan hujan Amazon adalah salah satu wilayah paling kaya akan keanekaragaman hayati di Bumi. Sebagai penyerap karbon, ia memainkan peran penting dalam menstabilkan suhu global.
Tekanan dari organisasi lingkungan dan pembeli internasional mendorong lahirnya moratorium pada 2006 sebagai komitmen sukarela. Pedagang kedelai besar sepakat untuk tidak membeli produk yang ditanam di lahan yang baru ditebang di Amazon.
Di kawasan yang diawasi, IPAM mencatat laju penebangan menurun sekitar 70 persen selama moratorium berlangsung. Namun secara keseluruhan, sejak 2008, luas lahan kedelai di Amazon meningkat lebih dari tiga kali lipat, yakni 7,28 juta hektare menurut Greenpeace. Moratorium tidak mampu mencegahnya.
Eduardo Vanin, seorang analis pasar kedelai di platform finansial Marex, memperkirakan penarikan dari kesepakatan akan menambah 150.000 hektare lahan tanam di negara bagian Amazon, Mato Grosso. Secara nasional, ia tidak melihat lonjakan besar deforestasi, tetapi "ini akan mempermudah penebangan dan pembukaan lahan baru."
Konsumsi kedelai di Cina menjadi kontributor terbesar deforestasi, diikuti oleh pasar domestik Brasil dan impor dari Uni Eropa.
Kebangkitan Brasil sebagai kekuatan kedelai
Pasar kedelai internasional telah berubah drastis dalam beberapa dekade terakhir. Brasil kini memegang 40 persen pangsa pasar dunia, menyalip AS. Pada awal 2000-an, CIna, konsumen kedelai terbesar dunia, sebagian besar mengimpor dari AS, hanya sepertiga dari Brasil. Kini, 70 persen kedelai CIna berasal dari Brasil, sementara AS tinggal 21 persen. Eduardo Vanin memprediksi tren ini akan terus berlanjut: "Penarikan dari moratorium akan meningkatkan ketergantungan CIna."
Sejak 2012, pembeli CIna semakin menjauh dari AS. Kekeringan yang menghancurkan sebagian besar panen AS membuat Brasil masuk menutupi kebutuhan, dan sengketa dagang AS-CIna pada 2018 dan 2025 semakin memperkuat tren ini.
Berbeda dengan AS, Brasil memiliki luas lahan yang tersedia, menurut Joana Colussi dari Institut Ekonomi Pertanian, Purdue University. Hal ini menurunkan biaya produksi per hektare. Brasil menikmati lonjakan harga komoditas, karena pandemi COVID-19 dan serangan Rusia ke Ukraina meningkatkan permintaan.
Colussi menilai, akhir moratorium tidak akan memicu "ledakan kedelai” baru, karena ekspansi besar akan terjadi di wilayah lain, bukan langsung di hutan hujan. Selain itu, penambahan lahan tanam akan menaikkan pasokan dan menurunkan harga, sehingga petani kehilangan insentif untuk memperluas lahan karena biaya produksi tetap tinggi.
Ritel Eropa dorong perlindungan hutan
Akhir moratorium terjadi saat permintaan daging di Eropa bisa meningkat. Perjanjian bebas perdagangan Mercosur-Uni Eropa (UE) mengurangi tarif impor, meski kedelai sudah bebas bea, sehingga tidak ada lonjakan permintaan dari Eropa.
Sinyal terakhir dari Eropa justru menunjukkan tekanan terhadap pelestarian Amazon di Brasil melemah. Brasil adalah pemasok kedelai terbesar bagi negara-negara UE. Peraturan Uni Eropa yang melarang deforestasi untuk sejumlah produk impor ditunda, dan undang-undang rantai pasok UE dilonggarkan.
Meski demikian, standar lebih tinggi tetap berlaku bagi Eropa. Ekspor Brasil ke Eropa akan menghadapi kesulitan membuktikan produk mereka bebas dari deforestasi baru. Sebagai respons terhadap akhir moratorium, 14 pelanggan besar Eropa, termasuk supermarket Lidl dan Aldi, menyatakan akan berhenti membeli kedelai Brasil jika rantai pasok tidak transparan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid