Ahad 22 Feb 2026 22:19 WIB

India Jadi Negara Berkembang Pertama Tuan Rumah AI Impact Summit

Perdana Menteri Narendra Modi dijadwalkan membuka India AI Impact Summit 2026, KTT mengenai kecerdasan buatan global, yang akan dihadiri para pemimpin dunia dan CEO perusahaan teknologi.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Arun Sankar/AFP
Arun Sankar/AFP

New Delhi menjadi tuan rumah India AI Impact Summit 2026, konferensi tingkat tinggi (KTT) kecerdasan buatan global yang berlangsung selama lima hari. Pertemuan ini membahas tantangan dan peluang teknologi tersebut di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan kerja dan keselamatan anak.

Perdana Menteri (PM) Narendra Modi, selaku pihak tuan rumah pertemuan akan membuka KTT ini pada Senin (16/02) sore waktu setempat.

Konferensi tahunan ini merupakan yang keempat kalinya digelar, setelah sebelumnya berlangsung di Prancis, Korea Selatan, dan Inggris. Ini adalah pertama kalinya pertemuan tersebut diselenggarakan oleh negara berkembang.

India dengan cepat meningkatkan daya saingnya di bidang AI menurut penilaian peneliti Universitas Stanford, dengan menempati posisi ketiga tahun 2025 setelah Amerika Serikat dan Cina.

Dihadiri Presiden Macron dan Altman "OpenAI"

India AI Impact Summit 2026 diperkirakan akan dihadiri lebih dari 250.000 pengunjung, serta 20 pemimpin negara termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, hingga 45 delegasi setingkat menteri lainnya.

CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Google Sundar Picha juga dijadwalkan akan menghadiri konferensi ini.

"KTT ini akan membentuk visi bersama tentang AI yang benar-benar melayani banyak orang, bukan hanya segelintir pihak," kata Kementerian Teknologi Informasi India.

Dalam tulisannya di platform X pada Senin (16/02) menjelang pembukaan KTT, Modi mengatakan:

"AI Impact Summit akan memperkaya diskursus global tentang berbagai aspek AI, seperti inovasi, kolaborasi, penggunaan yang bertanggung jawab, dan lainnya."

"Dari infrastruktur publik digital hingga ekosistem startup yang dinamis serta riset mutakhir, kemajuan kami di bidang AI mencerminkan ambisi sekaligus tanggung jawab," tambahnya.

Fokus soal risiko AI

Pertemuan di New Delhi ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran atas misinformasi, disinformasi, dan hasil deepfake atau manipulasi audiovisual yang dihasilkan AI.

Pada Januari 2025, AI Grok milik Elon Musk menuai kecaman global setelah menghasilkan gambar bernuansa seksual dari individu nyata hanya melalui perintah teks sederhana. Sebagian besar gambar tersebut menampilkan perempuan, termasuk anak-anak.

Pada November 2025, India merilis Pedoman Tata Kelola AI dengan prinsip utama "kepercayaan," "keamanan," "kesetaraan," dan "inovasi tanpa pembatasan berlebihan."

Namun, pada Januari 2026, pemerintah memperketat aturan AI dan mewajibkan platform media sosial memberi label jelas pada konten yang dihasilkan oleh AI.

KTT tersebut digelar dengan slogan "people, progress, planet," atau "masyarakat, kemajuan, dan Bumi," tetapi sejumlah pengamat meragukan capaian konkret yang dapat dihasilkan dari pertemuan ini.

Komitmen industri yang dibuat dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya "sebagian besar cenderung terbatas dan berupa kerangka 'swaregulasi' yang pada dasarnya memungkinkan perusahaan AI menilai diri mereka sendiri," kata Amba Kak, salah satu direktur eksekutif AI Now Institute.

Amba Kak, yang turut menghadiri KTT tersebut, meragukan para pemimpin negara akan mengambil langkah berarti untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan raksasa AI.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Pratama Indra

Editor: Muhammad Hanafi

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement