Jumat 06 Feb 2026 16:43 WIB

Ngoding Buat Apa? Bikin Riset yang Berdampak!

Riset harus hidup, relevan, dan menyentuh persoalan nyata.

UNM terus mendorong riset yang tak berhenti di jurnal atau laporan akhir. Riset harus hidup dan menyentuh persoalan nyata.
Foto: UNM
UNM terus mendorong riset yang tak berhenti di jurnal atau laporan akhir. Riset harus hidup dan menyentuh persoalan nyata.

Oleh: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah maraknya pemberitaan tentang kecanggihan teknologi visual, mulai dari analisis citra medis hingga pemantauan lingkungan berbasis kamera, publik sering hanya melihat hasil akhirnya: sistem yang terlihat pintar dan inovatif.

Padahal, di balik semua itu, ada proses ilmiah yang panjang dan serius. Salah satu fondasi utamanya adalah image processing.

Sebagai Ketua Program Studi Informatika di Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat image processing bukan sekadar materi teknis di ruang kelas. Ia jembatan nyata antara dunia akademik dan kebutuhan sosial.

Melalui pengolahan citra, mahasiswa tidak hanya belajar algoritma, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat.

Image processing memungkinkan data visual dianalisis secara objektif dan efisien. Di bidang kesehatan, misalnya, ia membantu membaca pola pada citra medis untuk mendukung diagnosis.

Dalam konteks lingkungan, teknologi ini dapat digunakan untuk memantau kualitas udara, perubahan lahan, hingga potensi bencana. Semua itu berangkat dari kemampuan dasar: mengolah citra menjadi informasi bermakna.

Bagi mahasiswa Informatika, keterlibatan dalam riset berbasis image processing adalah pengalaman akademik yang sangat berharga. Mereka tidak lagi sekadar mengerjakan tugas demi nilai, tetapi terlibat dalam proses pencarian solusi.

Mahasiswa belajar bahwa baris kode yang mereka tulis bisa berdampak langsung pada kehidupan orang lain. Di titik ini, Informatika berhenti menjadi ilmu yang abstrak dan berubah menjadi alat pengabdian.

Di UNM, kami mendorong riset yang tidak berhenti di jurnal atau laporan akhir. Riset harus hidup, relevan, dan menyentuh persoalan nyata.

Fakultas Teknologi Informasi mengarahkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan solutif, teknologi apa yang bisa dikembangkan, masalah sosial apa yang bisa diselesaikan, dan bagaimana ilmu di kelas bisa diterjemahkan menjadi inovasi. Riset berbasis image processing juga membentuk cara berpikir mahasiswa secara lebih utuh.

Mereka belajar membaca data, menganalisis konteks, dan mengambil keputusan berbasis bukti. Ini adalah kompetensi penting di era digital, ketika hampir semua sektor bisnis, kesehatan, pendidikan, hingga pemerintahan, bergantung pada data visual.

Pada akhirnya, image processing bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang makna. Ia menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat, antara teori dan praktik, antara ilmu dan dampak. Mahasiswa Informatika tidak cukup hanya mahir secara teknis.

Mereka harus mampu bertanya: teknologi ini untuk siapa, dan untuk apa? Jika riset tidak memberi manfaat sosial, maka ia kehilangan relevansinya. Dan jika teknologi tidak menyentuh persoalan nyata, maka ia hanya menjadi simbol kecanggihan tanpa makna.

Inilah yang ingin kami bangun di UNM, pendidikan Informatika yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga berguna secara sosial.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement