Sabtu 07 Feb 2026 22:22 WIB

Apa yang Sudah Dicapai Sejak Perjanjian Iklim Paris 2015?

Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris. Namun, sepuluh tahun setelah kesepakatan itu dicapai, kemajuan tetap terlihat, energi terbarukan tumbuh pesat, dan aksi-aksi perlindungan iklim mulai menunjukkan hasil.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Gaby Oraa/REUTERS
Gaby Oraa/REUTERS

Ketukan palu menandai lahirnya Perjanjian Paris pada 2015. Air mata menetes, para pemimpin dunia saling bergandeng tangan, dan ruang sidang KTT Iklim PBB COP21 di Paris berdiri memberi tepuk tangan panjang. Momen itu dikenang sebagai tonggak sejarah aksi iklim global.

Untuk pertama kalinya, hampir 200 negara menyepakati perjanjian mengikat guna menahan pemanasan global jauh di bawah 2 derajat Celsius, sembari berupaya membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat. Bagi para ilmuwan, ambang 1,5 derajat Celsius adalah garis pertahanan terakhir untuk mencegah kerusakan iklim yang paling parah dan tak dapat dipulihkan.

Kini, satu dekade berselang, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pelampauan ambang tersebut, setidaknya untuk sementara, “tak terelakkan”, dengan konsekuensi yang digambarkan sebagai “menghancurkan”.

Memang ada lompatan penting dalam aksi iklim sejak Paris. Namun para pakar memperingatkan dunia berada di persimpangan genting. Selama minyak, gas, dan batu bara terus dibakar, suhu akan terus naik, memicu badai mematikan, banjir besar, dan gelombang panas ekstrem.

Sepuluh tahun terakhir tercatat sebagai dekade terpanas sepanjang sejarah pengukuran. Tahun lalu menjadi yang terpanas di antaranya. Di tengah tren itu, Amerika Serikat, pengemisi terbesar kedua di dunia, secara resmi menarik diri dari Perjanjian Paris, bersama sejumlah kesepakatan lingkungan lainnya. Presiden Donald Trump pertama kali mengumumkan langkah itu setahun sebelumnya.

Pemanasan berlanjut

Ketika para pemimpin dunia berkumpul di Belem, Brasil, untuk KTT iklim global COP30 pada 2025, para ilmuwan mengingatkan betapa pun panasnya Bumi saat ini, setiap pecahan derajat tetap berarti. Ia dapat menjadi pembeda antara keselamatan dan penderitaan bagi jutaan orang.

Kenaikan suhu diperkirakan membunuh sekitar satu orang setiap menit. Polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil merenggut sekitar 2,5 juta nyawa setiap tahun. Dampak ekonomi tak kalah besar: kerugian global pada 2024 diperkirakan mencapai 304 miliar dolar AS, menurut riset jurnal medis The Lancet.

Ekosistem penting pun terdorong melampaui batasnya. Pada 2025, dunia melewati “titik kritis” iklim pertama, ambang yang memicu perubahan permanen, ketika pemanasan laut menyebabkan kematian massal terumbu karang. Terumbu karang adalah salah satu ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati, menopang seperempat kehidupan laut.

Ilmuwan memperingatkan titik kritis lain semakin dekat, termasuk kerusakan besar hutan hujan Amazon dan kolapsnya arus laut penting yang mengatur iklim global.

Ke mana arah emisi?

Kondisi genting ini dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlanjut sejak Perjanjian Paris ditandatangani. Pada 2024, emisi gas rumah kaca mencapai rekor tertinggi, 65 persen lebih tinggi dibanding tahun 1990.

Agar target Paris tetap dalam jangkauan, emisi seharusnya sudah mencapai puncak dan mulai turun tajam. Namun analisis terbaru menunjukkan tidak ada tanda perlambatan. Pada 2024, aktivitas manusia, terutama pembakaran batu bara, minyak, dan gas, melepas rekor 53,2 gigaton emisi setara CO₂ ke atmosfer.

Dua pertiga emisi itu berasal dari delapan ekonomi besar: Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Rusia, Indonesia, Brasil, dan Jepang. Dari kelompok ini, hanya Uni Eropa dan Jepang yang berhasil menurunkan emisi tahunan dibanding 2023.

Sebagian besar emisi berasal dari sektor energi, penggerak utama kehidupan dan perekonomian modern.

Apa yang berhasil sejak 2015?

Meski aksi iklim secara keseluruhan tertinggal jauh, ada kantong-kantong kemajuan yang mencolok. Pertumbuhan energi terbarukan melonjak tajam, bahkan melampaui ekspektasi paling optimistis. Biaya yang terus turun mendorong investasi energi bersih, yang kini dua kali lipat lebih besar dibanding investasi pada bahan bakar fosil.

Porsi energi global dari sumber terbarukan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak Perjanjian Paris. Pada 2024, dunia mencatat kenaikan terbesar sepanjang sejarah dalam pembangkitan listrik terbarukan, yang kini menyumbang 40 persen listrik global. Pada paruh pertama tahun ini, tenaga surya dan angin memenuhi seluruh pertumbuhan permintaan listrik, melampaui batu bara untuk pertama kalinya.

Kapasitas surya global kini lebih dari empat kali lipat dari proyeksi 2015 dan terus berlipat dua setiap tiga tahun. Kapasitas angin meningkat tiga kali lipat, menurut Energy and Climate Intelligence Unit di Inggris.

Bahkan di Amerika Serikat—meski pemerintahan Trump memangkas subsidi dan kredit pajak energi terbarukan serta membatasi proyek surya dan angin—pertumbuhan tetap terjadi. Antara Januari hingga September 2025, energi hijau mendominasi penambahan kapasitas listrik baru. Energi terbarukan dan penyimpanan baterai menyumbang 93 persen kapasitas baru, menurut Deloitte.

Cina memimpin jauh. Pada 2024, negara itu memasang kapasitas surya lebih besar dibanding gabungan seluruh dunia, kapasitasnya kini 1.000 kali lipat dibanding 2010.

Dalam satu dekade, kendaraan listrik melonjak dari sekitar 1 persen penjualan mobil menjadi hampir seperempat. Dunia berada di jalur mencapai target Paris: 100 juta kendaraan listrik pada 2030, bahkan lebih cepat dari jadwal.

Namun catatan penting tetap ada. Rekor energi terbarukan dibarengi rekor batu bara. Bahan bakar fosil paling kotor itu mencatat konsumsi global tertinggi tahun lalu. Di saat yang sama, meski investasi energi hijau meningkat, pembiayaan publik untuk bahan bakar fosil juga naik hingga 1,6 triliun dolar AS per tahun.

Akankah target Paris tercapai?

Para ahli menilai dunia masih jauh dari jalur yang benar. Tanpa Perjanjian Paris, pemanasan global bisa mencapai 4 derajat Celsius pada akhir abad ini. Dengan komitmen saat ini, jika seluruh rencana nasional dijalankan penuh, kenaikan suhu diperkirakan tetap berada di kisaran 2,3–2,5 derajat.

Itu pun berarti dunia harus bersiap menghadapi panas ekstrem, badai lebih ganas, dan kenaikan muka laut yang lebih cepat.

Menjelang COP30 di Belem, banyak negara masih terseok mengajukan komitmen iklim baru. Lebih dari 65 negara belum menyerahkan target terbarunya. Analisis PBB memperkirakan emisi global hanya akan turun sekitar 12 persen pada 2035 dibanding 2019.

Padahal, dunia masih melaju melampaui batas 2 derajat. Laporan State of Climate Action menegaskan perlunya percepatan luar biasa: penghentian batu bara sepuluh kali lebih cepat, upaya menghentikan deforestasi meningkat sembilan kali lipat, pertumbuhan energi terbarukan digandakan, pembiayaan iklim global ditambah hampir satu triliun dolar AS per tahun, serta perluasan besar-besaran transportasi publik di kota-kota paling mencemari dunia.

Paris pernah memberi harapan. Sepuluh tahun kemudian, waktu menjadi musuh yang kian mendesak.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman pada 12 November 2025 dan diperbarui pada 27 Januari 2026

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement