Rabu 28 Jan 2026 15:39 WIB

Kisah Trauma Eks Pekerja Kamboja di Bandung

Terjadi lonjakan jumlah WNI yang hendak kabur dari Kamboja.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Fitriyan Zamzami
Imas nenek dari Rizki Nurfadhilah (18 tahun) pemuda asal Kabupaten Bandung yang diduga korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Kamboja menunjukan foto cucunya.
Foto: Republika
Imas nenek dari Rizki Nurfadhilah (18 tahun) pemuda asal Kabupaten Bandung yang diduga korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Kamboja menunjukan foto cucunya.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG- Raut wajah Rizki Nurfadhilah tiba-tiba tegang usai kembali mendengar informasi tentang ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) ingin pulang dari negara Kamboja. Otot wajah kaku, dahi berkerut hingga kepala yang terus menunduk menunjukkan rasa trauma mendalam.

Sorot matanya pun terlihat kosong seakan memperlihatkan apa yang dialaminya di Kamboja tidak bisa dilupakan. Seperti diketahui, ribuan WNI ingin pulang dari Kamboja usai aparat setempat melakukan razia terhadap aksi penipuan daring.

Baca Juga

Ditemui di kediamannya di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, ia mengaku masih trauma dan takut atas kejadian yang dialaminya. Rizki terlihat gelisah dan enggan berkomentar banyak terkait apa yang dialaminya di Kamboja.

Ia hanya mengingatkan masyarakat yang tengah mencari kerja tidak tergiur iming-iming gaji besar apalagi bekerja di Kamboja. Rizki pun mengingatkan agar bijak juga menggunakan media sosial.

Pertama kali berhubungan dengan pihak di Kamboja, ia mengaku berkomunikasi melalui media sosial. "Hati-hati kalau di media sosial," ucap di yang sempat bekerja sebagai scammer hingga akhirnya memilih untuk pulang, Rabu (28/1/2026).

photo
Sejumlah tersangka berjalan menuju mobil tahanan usai dihadirkan dalam konferensi pers pengungkapan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (22/11/2024). - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Selama di Kamboja, ia mengaku mengalami tindak kekerasan verbal hingga fisik. Akibatnya, beberapa kali ia mengalami sejumlah luka di bagian tubuhnya.

Sebelumnya, polisi mengungkapkan Rizki secara sadar mendaftarkan diri melalui media sosial untuk bekerja di Kamboja. Ia akan bekerja sebagai operator penipuan daring.

"Dia sadar sendiri bahwa di akan menjadi scammer di sana dengan gaji sekian. Dia hanya menduga enak atau tidak, tetapi berbicara kepada orang tuanya adalah sebagai pemain sepakbola di PSMS Medan,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan beberapa waktu silam.

Sementara pihak keluarga mengungkapkan Rizki sebelumnya diiming-imingi untuk mengikuti seleksi tim sepak bola PSMS Medan oleh seseorang yang dikenalnya melalui media sosial Facebook. Namun, alih-alih dibawa ke Medan, ia justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring yang menyasar warga negara China.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement