Ahad 25 Jan 2026 22:30 WIB

Cek Fakta: Aman Enggak sih Minum Air dari Sinkhole Sumatra Barat?

Sebuah video di media sosial mengeklaim bahwa air dari sinkhole di Sumatra Barat aman diminum karena disebut memiliki pH 8,4. Benarkah demikian? Tim Cek Fakta DW menelusuri kebenaran klaim tersebut.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
TikTok
TikTok

Sebuah video yang mengeklaim hasil uji laboratorium terhadap air dari sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, tengah beredar luas di media sosial. Dalam video itu tercantum keterangan bahwa air yang muncul dari fenomena tanah ambles tersebut layak dikonsumsi karena disebut memiliki pH 8,4.

Hasil penelusuran visual menggunakan Google Reverse Image Search menunjukkan bahwa lokasi dalam video konsisten dengan area sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota.

Klaim: "Hasil uji labor sumber air sinkhole di Situjuah Batua, 50 Kota, pH‑airnya 8,4. Ini kategori air minum sehat.”

Cek Fakta DW: Salah.

Klaim tersebut kemudian memicu beragam reaksi dan turut mempercepat penyebaran video itu di berbagai platform digital. Sebagian warganet menganggap air dengan pH tinggi sebagai indikator kesehatan, sementara yang lain meragukan keabsahan data yang disebutkan dalam narasi.

Air sinkhole mengandung bakteri E. coli dan coliform

Di tengah maraknya klaim bahwa air dari sinkhole di Nagari Situjuah Batua aman diminum, pemerintah provinsi justru menyampaikan temuan berbeda. Wakil Gubernur Sumatra Barat, Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kandungan bakteri dalam air tersebut sangat tinggi sehingga tidak layak untuk dikonsumsi langsung.

Temuan laboratorium itu diperkuat oleh penjelasan ahli.

Pakar kebencanaan geologi BRIN, Adrin Tohari, menyebut air dari sinkhole mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam jumlah tinggi. Menurutnya, keberadaan bakteri ini menandakan adanya hubungan langsung antara air sinkhole dan sumber air permukaan yang tercemar, seperti aliran air kotor, air limbah, atau air yang tidak mengalami proses filtrasi alami secara memadai.

"Untuk kasus yang di Sumatra Barat, sudah ada konfirmasi bahwa itu banyak sekali mengandung bakteri E. coli, berarti itu kan dekat sekali dengan sumber-sumber air permukaan, yang memang airnya kotor,” kata Adrin Tohari saat diwawancara DW, Selasa (20/01).

"Dia masuk ke dalam rongga-rongga yang ada, melalui celah-celah yang ada di dalam tanah, atau dia melalui lapisan tanah permukaan, lalu masuk ke rongga-rongga yang ada di batu gamping, bercampur dengan air yang sudah ada di dalam batu gamping itu,” tambah Adrin.

Adrin menegaskan bahwa temuan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kejernihan air tidak dapat dijadikan tolok ukur keamanan konsumsi.

Mengapa bakteri E. Coli berbahaya?

Temuan bakteri E. coli dan coliform pada sampel air sinkhole menegaskan bahwa air tersebut tidak aman dikonsumsi tanpa proses pengolahan. Pakar mikrobiologi Universitas Indonesia, Amin Soebandrio, menjelaskan bahwa keberadaan kedua bakteri itu merupakan indikator kuat pencemaran tinja, baik dari manusia maupun hewan. Ia menekankan bahwa E. coli lazim ditemukan di saluran cerna makhluk hidup sehingga ketika terdeteksi pada sumber air tanah, hal itu menunjukkan adanya kontaminasi limbah biologis.

Amin juga memaparkan bahwa risiko kesehatan akibat mengonsumsi air tercemar E. coli dapat bersifat serius. Paparan bakteri ini dapat menyebabkan diare, muntah, kram perut, dan infeksi saluran pencernaan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.

"Dengan adanya bakteri E. coli di dalam air, baik itu air sumur, air galian, atau sumur bor itu merupakan indikasi bahwa air tersebut tercemar oleh feses, yang bisa berasal dari manusia maupun hewan,” kata Amin kepada DW. Ia menegaskan bahwa jika hasil laboratorium menunjukkan adanya E. coli, maka air tersebut dipastikan tidak layak konsumsi secara langsung.

pH air sinkhole Sumatra Barat bukan 8,4

Pemeriksaan lanjutan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Sumatra Barat kembali menegaskan bahwa air dari sinkhole di Nagari Situjuah Batua belum memenuhi standar kesehatan untuk dikonsumsi.

Dalam uji terbaru, pH air tercatat berada pada angka 6,03, lebih rendah dari kisaran ideal air minum, yakni 6,5 hingga 8,5. Temuan ini melengkapi hasil sebelumnya yang menunjukkan adanya bakteri E. coli dan coliform dalam sampel sehingga memperkuat kesimpulan bahwa air sinkhole tersebut tidak aman diminum secara langsung.

Regulasi pemerintah soal standar air yang bisa dikonsumsi

Melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023, pemerintah menegaskan bahwa tidak semua air yang tampak jernih atau memiliki pH tertentu otomatis memenuhi syarat sebagai air minum. Pada Bab II regulasi tersebut, yang mengatur parameter wajib air minum, ditekankan bahwa kualitas air harus dinilai secara menyeluruh berdasarkan aspek fisika, kimia, dan mikrobiologi sebelum dinyatakan aman dikonsumsi masyarakat.

Permenkes ini menjadi acuan nasional dalam pengawasan kualitas air minum dan menjadi dasar pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi air yang belum melalui pengujian komprehensif. Regulasi tersebut juga memberikan definisi tegas mengenai air minum. Pada Pasal 1 Ayat 4, disebutkan bahwa ‘air minum adalah air yang melalui pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.’

Definisi ini menegaskan bahwa syarat kesehatan merupakan faktor utama, bukan sekadar kejernihan, rasa segar, atau klaim pH tinggi. Air yang tidak lulus uji mikrobiologi, seperti terdeteksi E. coli atau coliform, secara otomatis tidak memenuhi syarat tersebut.

Lebih jauh, Permenkes menegaskan bahwa penilaian kualitas air tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu indikator, seperti pH. Standar baku mutu air minum mengharuskan air bebas dari berbagai kontaminan berbahaya, termasuk bakteri patogen, logam berat, zat kimia beracun, serta parameter fisik yang mencakup kejernihan, bau, dan rasa. Seluruh aspek tersebut hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium, analisis risiko, dan rekomendasi tindak lanjut yang terukur.

Editor: Hani Anggraini

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement