Kamis 22 Jan 2026 16:09 WIB

Black Box Pesawat ATR 42-500 Dibawa ke Jakarta, Investigasi Dimulai

"Hari ini (black box/kotak hitam) dibawa ke Jakarta, besok kita mulai (investigasi)."

Panglima Kodam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko (kanan) disaksikan Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan (kiri) memperlihatkan alat perekaman penerbangan atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 di posko aju Tompo Bulu, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026). Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua kotak hitam atau perekam penerbangan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak pada Sabtu (17/1) yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Panglima Kodam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko (kanan) disaksikan Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan (kiri) memperlihatkan alat perekaman penerbangan atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 di posko aju Tompo Bulu, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026). Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua kotak hitam atau perekam penerbangan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak pada Sabtu (17/1) yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai melakukan investigasi penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik maskapai penerbangan Indonesia Air Transport yang menabrak Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kotak hitam atau black box pesawat itu sudah dibawa ke Jakarta.

"Hari ini (black box/kotak hitam) dibawa ke Jakarta, besok kita mulai (investigasi)," ujar Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono usai menerima kotak hitam pesawat ATR 42-500 di Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga

Menurutnya, hasil pemeriksaan kotak hitam pesawat ATR 42-500 ini membutuhkan waktu beberapa hari agar mendapatkan hasil sesuai dengan kronologi kejadian tersebut.

"(Sekitar) lima sampai enam hari, kalau tidak ada masalah. (Biasanya) ada kalau dari fisiknya (rusak). Ini belum tentu. Tapi, alhamdulillah, mudah-mudahan tidak ada masalah. Fisiknya ini dalam kondisi bagus," ujar Soerjanto saat dikonfirmasi di sela konferensi pers.

Sebelumnya, dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, Soerjanto menjelaskan kotak hitam pesawat itu terdiri atas dua jenis perangkat, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). Untuk CVR, berisi rekaman suara dengan empat channel atau saluran. Channel pertama, merekam komunikasi antara pesawat dengan pengawas lalu lintas udara atau ATC.

Channel kedua, merekam komunikasi antarpilot. Channel ketiga, komunikasi dari kokpit ke kabin dan channel keempat, merekam seluruh suara yang ada di dalam kokpit.

Seluruh percakapan pilot serta berbagai suara di dalam kokpit, kata Soerjanto, terekam di CVR. Kejadian ini akan menjadi bahan penting dalam rangkaian proses investigasi.

photo
Petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memegang foto almarhum Deden Maulana saat upacara penyambutan kedatangan jenazah di Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Kamis (22/1/2026). Deden Maulana merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. - (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Sedangkan FDR menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan, di antaranya ketinggian, kecepatan, serta berbagai data teknis pendukung lainnya pada pesawat.

"Semua data-data ini akan membantu kami mengetahui secara akurat apa yang terjadi pada pesawat sebelum kecelakaan itu terjadi," katanya menjelaskan.

Ia menekankan tujuan utama investigasi KNKT agar mendapatkan lesson learned atau pembelajaran sehingga kecelakaan yang memiliki kesalahan tidak berulang pada masa berikutnya.

"Hasil investigasi KNKT nantinya berupa laporan lengkap dan rekomendasi keselamatan. Bila dalam prosesnya kami memandang perlu adanya rekomendasi segera maka KNKT mengeluarkan rekomendasi tersebut tanpa menunggu laporan akhir," ucapnya.

Dengan ditemukannya kedua kotak hitam pesawat ATR 42-500, KNKT optimistis dapat mengetahui penyebab kecelakaan untuk diungkap secara objektif serta berbasis data, bukan sekadar perkiraan-perkiraan.

"Lokasi penemuannya memang sangat ekstrem. Sebelumnya kami memperkirakan itu sulit untuk menemukannya. Alhamdulillah, dengan doa dan kerja keras bersama, black box berhasil ditemukan sebelum operasi SAR berakhir," ujarnya.

Soerjanto juga memberi penjelasan tambahan berkaitan warna black box diartikan kotak hitam, namun faktanya berwarna oranye. "Mengapa berwarna oranye, ini untuk memudahkan pencarian di lokasi ketika terjadi kecelakaan," tambahnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement