Kamis 22 Jan 2026 08:01 WIB

BPBD DKI Tebar 2,4 Ton Bahan Semai pada Hari Keenam OMC

Langkah mitigasi dilakukan untuk menekan potensi hujan ekstrem.

Seorang ilmuwan penerbangan mencatat data penyemaian  Natrium Klorida (NaCl) saat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB di sekitar wilayah udara pesisir utara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (2/11/2025). Hingga hari kesembilan atau per Ahad (2/11) penerbangan kedua, BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghabiskan sebanyak 31 ton NaCl dan 14 ton CaO untuk OMC Jateng dalam rangka penanganan dan mitigasi bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya.
Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Seorang ilmuwan penerbangan mencatat data penyemaian Natrium Klorida (NaCl) saat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB di sekitar wilayah udara pesisir utara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (2/11/2025). Hingga hari kesembilan atau per Ahad (2/11) penerbangan kedua, BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghabiskan sebanyak 31 ton NaCl dan 14 ton CaO untuk OMC Jateng dalam rangka penanganan dan mitigasi bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta menebar 2,4 ton bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) pada hari keenam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mitigasi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi.

“Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan dan analisis meteorologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga

Yohan menjelaskan, pelaksanaan OMC hari keenam ini merupakan langkah mitigasi untuk menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Menurut dia, OMC dilakukan melalui tiga kali penerbangan pesawat CASSA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma, dengan total bahan semai sebanyak 2,4 ton NaCl dan CaO.

Pada penerbangan pertama, penyemaian awan difokuskan di wilayah perairan Selat Sunda pada ketinggian 10.000–11.000 kaki dengan target awan cumulus mediocris yang memiliki dasar sekitar 5.000 kaki dan puncak hingga 12.000 kaki.

“Penyemaian menggunakan 800 kilogram NaCl dengan tujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jabodetabek agar presipitasi terkonsentrasi di perairan,” ujar Yohan.

Penerbangan kedua dilakukan pada siang hari dengan area semai di atas perairan Selat Sunda pada radial 250–300 derajat dan jarak 80–110 mil laut dari Bandara Halim Perdanakusuma. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 8.000–12.000 kaki dengan bahan semai NaCl sebanyak 800 kilogram.

“Upaya ini bertujuan mengendalikan pertumbuhan awan hujan di wilayah perairan barat agar hujan tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta,” katanya.

Sementara itu, penerbangan ketiga difokuskan di wilayah udara Kabupaten Bekasi. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000–7.000 kaki dengan menggunakan 800 kilogram kalsium oksida (CaO).

Langkah tersebut ditujukan untuk menekan intensitas awan hujan di wilayah timur yang berpotensi mempengaruhi kondisi cuaca di DKI Jakarta.

Di sisi lain, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menyampaikan bahwa kondisi atmosfer pada Rabu menunjukkan potensi cuaca yang lebih ekstrem.

“Hari ini, 21 Januari, prediksi cuaca lebih ekstrem dibandingkan 12 dan 18 Januari lalu saat terjadinya banjir di Jakarta,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan prakiraan cuaca ke depan, tingkat risiko masih berada pada kategori menengah sehingga pelaksanaan OMC sementara direncanakan berlangsung hingga 22 Januari 2026.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement