Selasa 20 Jan 2026 12:33 WIB

Jerman Bangkitkan 'Raksasa Tidur', Siapkan Militer Terkuat Sejak Perang Dunia II

Jerman kucurkan 108 miliar Euro demi hadapi Rusia, Moskow langsung ketar-ketir.

 Foto selebaran yang disediakan oleh Bundeswehr menunjukkan tentara sebelum keberangkatan untuk operasi evakuasi militer di Al-Azraq, Yordania, Ahad (23/4/2023) (diterbitkan Senin (24/4/2023). Pemerintah Jerman telah mulai mengevakuasi warga Jerman dari Sudan, karena bentrokan bersenjata berat antara militer dan kelompok paramilitay saingan telah terjadi di Khartoum dan bagian lain Sudan sejak 15 April 2023. Evakuasi sedang dikoordinasikan dengan pemerintah Yordania.
Foto: EPA-EFE/BUNDESWEHR
Foto selebaran yang disediakan oleh Bundeswehr menunjukkan tentara sebelum keberangkatan untuk operasi evakuasi militer di Al-Azraq, Yordania, Ahad (23/4/2023) (diterbitkan Senin (24/4/2023). Pemerintah Jerman telah mulai mengevakuasi warga Jerman dari Sudan, karena bentrokan bersenjata berat antara militer dan kelompok paramilitay saingan telah terjadi di Khartoum dan bagian lain Sudan sejak 15 April 2023. Evakuasi sedang dikoordinasikan dengan pemerintah Yordania.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian mencekam, benua biru kini sedang menyaksikan perlombaan senjata paling masif sejak berakhirnya Perang Dingin. Eropa, yang selama puluhan tahun tertidur di bawah payung perlindungan Amerika Serikat, kini dipaksa terbangun oleh realitas pahit bahwa kedaulatan mereka tak lagi bisa digantungkan pada janji-janji asing.

Militer Eropa bertransformasi dari sekadar kekuatan pendukung menjadi mesin perang mandiri yang terus diperkuat, menciptakan benteng pertahanan baru guna menghadapi ancaman besar yang kini mengetuk pintu perbatasan mereka di Timur.

Baca Juga

Jerman berada di garis terdepan transformasi ini. Mulai awal tahun 2026, setiap pemuda Jerman berusia 18 tahun menerima kuesioner wajib untuk mendata kesiapan dinas militer mereka. Meskipun saat ini masih bersifat sukarela, langkah hukum ini merupakan fondasi bagi ambisi besar Kanselir Friedrich Merz untuk membangun angkatan darat konvensional terkuat di Eropa.

Targetnya jelas: Bundeswehr harus kembali menjadi kekuatan yang disegani, mencapai 260.000 personel aktif dan 200.000 pasukan cadangan pada tahun 2035, menyamai kekuatannya di era Perang Dingin.

Ambisi Friedrich Merz untuk membangun militer Jerman bukanlah tanpa alasan. Sebagai pemimpin ekonomi terbesar di Eropa, Merz menyadari bahwa Jerman tidak bisa lagi hanya menjadi raksasa ekonomi namun "kerdil" secara militer. Perang di Ukraina menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa stabilitas Eropa hanya bisa dijamin dengan kekuatan yang mampu menciptakan efek jera.

Dengan anggaran pertahanan yang melonjak hingga 108 miliar euro (Rp1.950 triliun) atau setara 2,5 persen dari PDB tahun ini, Merz ingin memastikan bahwa Jerman mampu memimpin pertahanan kolektif Eropa tanpa harus menunggu perintah atau restu dari Washington.

Konsep "Angkatan Darat Terkuat di Eropa" yang dikejar Jerman mencakup kualifikasi teknologi militer mutakhir dan kesiapan tempur skala penuh. Hal ini mencakup modernisasi total armada tank Leopard 2, penguasaan sistem pertahanan udara jarak jauh, hingga integrasi kecerdasan buatan dalam komando tempur.

Jerman tidak hanya mengandalkan jumlah personel, tetapi juga kualitas peralatan konvensional yang mampu beroperasi dalam medan perang intensitas tinggi, menjadikan Bundeswehr sebagai tulang punggung operasional bagi seluruh negara anggota NATO di daratan Eropa.

Langkah masif ini dipicu oleh satu faktor kunci: Uni Eropa kini menyadari bahwa mereka tidak lagi bisa mengandalkan militer Amerika Serikat. Kekecewaan ini memuncak seiring dengan kebijakan "nativistik" Presiden Donald Trump yang dianggap menghina integritas Eropa.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan 84 persen warga Jerman tidak lagi percaya AS akan menjamin keamanan mereka. Strategi Keamanan Nasional Trump yang dipublikasikan November 2025 lalu dinilai merendahkan institusi di Brussel, menciptakan keretakan diplomatik terdalam yang memaksa Eropa untuk memikirkan "NATO Eropa" tanpa ketergantungan pada Washington.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement