Senin 12 Jan 2026 23:25 WIB

Hemat Triliunan Dolar dari Percepatan Transisi Energi Bersih

Ketika harga energi hijau terus melorot, transisi cepat menuju energi terbarukan justru menjadi pilihan paling murah. Para ahli memperkirakan langkah ini dapat menghemat ongkos energi senilai hingga triliunan dolar AS.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Lakeview Image Library/imageBROKER/picture alliance
Lakeview Image Library/imageBROKER/picture alliance

Di perbukitan bergelombang di tenggara Queensland, Australia, petani sekaligus pengusaha Brent Finlay berdiri di bawah turbin angin yang menjulang setinggi gedung pencakar langit.

"Ada lift di dalamnya. Perlu sekitar 12 menit untuk naik dari dasar hingga puncak," ujarnya sambil menunjuk ke udara. Empat puluh lima turbin raksasa yang kini tersebar di lahannya merupakan bagian dari MacIntyre Wind Farm, proyek pembangkit angin raksasa yang akan menyuplai listrik untuk 700 ribu rumah tangga.

Pemandangan ini bertolak belakang dengan bencana cuaca ekstrem yang dialami Finlay lima tahun lalu. Kekeringan selama setahun penuh mengubah tanah suburnya menjadi debu. Burung-burung jatuh mati dari pepohonan. Ribuan kanguru liar tewas akibat fluktuasi suhu ekstrem, atau mata air yang mengering.

"Ekosistem kami tidak lagi sekadar rusak, tapi sedang kolaps," katanya.

Meski merasakan langsung dampak kehancuran akibat krisis iklim, keputusan Finlay menerima turbin angin bukan semata demi lingkungan. "Ini pendapatan tambahan… investasi untuk generasi mendatang di lahan ini," katanya kepada DW. Cuaca ekstrem yang kian sering, ujarnya, membuat pertanian kian rapuh sebagai sumber pendapatan.

Sejak itu, Finlay menerapkan praktik pertanian regeneratif untuk memulihkan peternakan wol dan sapi yang telah dikelola keluarganya lebih dari 100 tahun. Namun dia juga menjadi bagian dari kelompok petani yang terus bertambah — yang membuka lahannya bagi proyek energi terbarukan. Mereka memperoleh pendapatan dari sewa lahan kepada pengembang energi, sekaligus menghasilkan listrik bagi komunitas sekitar.

Transisi cepat bisa menghemat triliunan

Petani yang menyewakan lahannya bukan satu-satunya pihak yang diperkirakan akan menikmati keuntungan finansial dari sistem energi bersih.

Seiring harga teknologi energi terbarukan terus jatuh, para ahli memperkirakan penghematan terjadi di berbagai lini — mulai dari turunnya tagihan listrik rumah tangga hingga berkurangnya risiko akibat bencana iklim.

Riset membuktikan, semakin cepat transisi dilakukan, malah semakin murah hasilnya. Studi besar Universitas Oxford menemukan bahwa transisi cepat menuju energi terbarukan hingga tahun 2050 dapat menghemat ekonomi global setidaknya US$12 triliun (sekitar Rp201 ribu triliun) dalam biaya sistem energi dibandingkan bertahan pada bahan bakar fosil. Penghematan senilai lebih dari dua ratus kuadriliun rupiah itu dicapai sambil memproduksi energi lebih banyak dan memperluas akses listrik ke seluruh dunia.

Angka tersebut bahkan belum mencakup penghematan dari bencana iklim yang berhasil dihindari.

Alasan utama transisi cepat menghasilkan penghematan lebih besar adalah karena semakin banyak teknologi energi terbarukan diproduksi, semakin murah pula biayanya.

Ekonom menyebut fenomena ini sebagai learning curve atau Hukum Wright, yang menunjukkan bahwa biaya teknologi tertentu menurun seiring meningkatnya produksi kumulatif. Pola yang sama pernah menekan harga pesawat terbang, mobil, komputer, hingga teknologi pengurutan DNA selama satu abad terakhir.

Harga baterai, energi surya, dan angin terus merosot

Dalam sepuluh tahun terakhir, harga panel surya turun sekitar 90 persen, terutama didorong oleh ledakan kapasitas manufaktur di Cina.

"Tenaga surya adalah bentuk energi termurah dalam sejarah," kata ekonom Columbia Business School, Gernot Wagner. "Saking murahnya, orang Jerman memasangnya sebagai pagar kebun. Anjing tetap di dalam, mobil tetap terisi daya."

Harga tenaga angin juga turun sekitar 70 persen sejak tahun 2014. Teknologi penyimpanan baterai—yang krusial untuk menyimpan energi surya dan angin — mengalami peningkatan pesat. Harganya turun sekitar 85 persen dibandingkan dekade 2010-an.

"Ketika teknologinya kecil dan modular, biaya jauh lebih mudah ditekan," kata Kingsmill Bond, analis strategi energi dari lembaga riset Ember di Inggris. "Inovasi terjadi melalui puluhan ribu, bahkan jutaan pelaku."

Teknologi versus komoditas

Bandingkan dengan sistem energi berbasis bahan bakar fosil, yang bergantung pada material terbatas. Batu bara, minyak, dan gas harus ditemukan, digali dari perut bumi, diangkut lintas dunia, dan hanya bisa dibakar satu kali.

Harga bahan bakar fosil berfluktuasi mengikuti geopolitik, gangguan pasokan, dan spekulasi pasar. Namun, tidak seperti teknologi, harganya tidak menurun secara struktural. Fluktuasi ini berdampak serius bagi perekonomian.

"Di situlah Putin kehilangan kendali, menyerbu Ukraina, dan kita mengalami musim panas 2022 — ketika harga listrik di Eropa melonjak hingga sepuluh kali lipat dari seharusnya," kata Wagner.

Teknologi surya dan angin memang membutuhkan biaya awal untuk manufaktur dan pembangunan. Namun setelah pembangkit berdiri, biaya operasionalnya rendah. "Bahan bakarnya" — matahari dan angin — gratis dan kebal terhadap guncangan pasar global.

Menurut Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), pada 2024 biaya pembangkitan listrik tenaga surya hampir setengah lebih murah dibandingkan alternatif fosil termurah. Tenaga angin bahkan lebih murah lagi. Seiring bertambahnya kapasitas energi terbarukan, selisih harga ini diperkirakan akan terus melebar.

Tenaga nuklir menjadi pengecualian. Berbeda dengan surya dan angin, biayanya tidak menunjukkan tren penurunan. Transisi energi berbasis nuklir diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$25 triliun lebih mahal hingga 2050 dibandingkan sistem energi saat ini.

Bahan bakar fosil 'lebih murah'?

Bertahan pada bahan bakar fosil sering terasa lebih murah karena infrastrukturnya sudah terbangun. Namun, bahkan tanpa menghitung biaya kerusakan iklim, sistem ini menuntut ongkos operasional yang sangat besar.

Penambangan berkelanjutan, transportasi lintas dunia, serta mesin ekstraksi dan pemurnian bahan bakar menelan biaya tinggi. Biaya tersembunyi lainnya datang dalam bentuk "rente" — keuntungan ekstra yang dapat dipungut negara produsen karena mereka menguasai sumber daya langka yang sangat dibutuhkan.

Arab Saudi, misalnya, dapat memproduksi minyak dengan biaya sekitar US$5 – 10 per barel, lalu menjualnya seharga US$50–100. Data Bank Dunia menunjukkan rente global bahan bakar fosil mencapai hingga US$2,5 triliun per tahun.

"Kita menuangkan ribuan miliar dolar ke kantong negara-negara petro dan membuat mereka sangat kaya," kata Bond. "Padahal, itu uang yang sebenarnya tidak perlu lagi kita keluarkan."

Biaya energi lebih murah dalam jangka panjang

Berlawanan dengan anggapan umum, transisi ke energi bersih seperti energi surya dan angin tidak menuntut belanja total yang lebih besar, kata Bond. Sebagian besar investasi dapat dialihkan dari dana yang selama ini digunakan untuk mempertahankan dan memperluas infrastruktur bahan bakar fosil.

"Pada dasarnya, Anda membangun sistem energi bersih, lalu menghemat uang yang sebelumnya dihabiskan untuk membeli bahan bakar fosil," ujarnya.

Dana yang biasanya digunakan untuk membangun pipa baru, meningkatkan kilang lama, atau membayar impor energi dapat dialihkan ke ladang angin, pembangkit surya, penyimpanan energi, dan penguatan jaringan listrik, aset yang menghasilkan energi dengan biaya operasional jangka panjang jauh lebih rendah.

"Anda memasang panel surya, ia bertahan 30 tahun dan menghasilkan listrik setiap hari," kata Bond. "Jelas sistem energi terbarukan jauh lebih murah untuk dijalankan."

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement