REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Andry Maulana, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri Kampus Margonda
Kini, generasi muda Indonesia berada di persimpangan penting. Dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu. Teknologi berkembang pesat, pola bisnis bergeser, dan industri semakin selektif dalam memilih talenta. Dalam situasi ini, kesiapan sumber daya manusia bukan lagi sekadar nilai akademik, melainkan kombinasi kemampuan yang relevan dengan realitas kerja masa kini.
Memasuki 2026, tantangan yang dihadapi anak muda tidak hanya soal persaingan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga kemampuan bertahan dan berkembang di tengah perubahan yang konstan. Dunia kerja menuntut individu yang adaptif, mau belajar, dan memiliki keterampilan yang langsung dapat diterapkan. Mereka yang tidak menyiapkan diri sejak sekarang berisiko tertinggal.
Menurut saya, ada tiga bekal utama yang kini wajib dimiliki generasi muda: penguasaan teknologi, kemampuan manajemen, dan pemahaman bisnis digital. Ketiganya bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan kebutuhan dasar.
Pertama, teknologi. Hampir semua sektor kini bergantung pada sistem digital, mulai dari industri kreatif, pendidikan, layanan publik, hingga bisnis skala kecil. Penguasaan teknologi tidak selalu berarti menjadi programmer, tetapi memahami cara kerja sistem digital, data, dan tools yang digunakan di dunia kerja. Tanpa literasi teknologi, lulusan perguruan tinggi akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja modern.
Kedua, bisnis digital. Pertumbuhan ekonomi digital membuka peluang besar, sekaligus persaingan yang ketat. Generasi muda tidak lagi cukup dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta nilai. Pemahaman tentang pasar digital, perilaku konsumen, branding, dan pemasaran berbasis platform menjadi bekal penting agar anak muda mampu mandiri dan menciptakan peluang, bukan sekadar menunggu kesempatan.
Ketiga, manajemen. Banyak ide bagus gagal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tidak dikelola dengan baik.
Kemampuan mengatur waktu, mengelola tim, menyusun prioritas, dan mengeksekusi rencana menjadi penentu apakah sebuah gagasan bisa diwujudkan atau berhenti di konsep. Manajemen adalah penyeimbang antara teknologi dan bisnis digital agar keduanya berjalan efektif.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang berorientasi pada kesiapan masa depan. Melalui program studi yang fokus pada teknologi informasi, bisnis digital, dan manajemen, mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga membangun kompetensi praktis yang dibutuhkan industri.
Kami meyakini bahwa kampus tidak boleh terjebak pada rutinitas akademik semata. Lingkungan pembelajaran harus mendorong mahasiswa berpikir kritis, adaptif, dan berani menghadapi persoalan nyata. Oleh karena itu, pengembangan diri melalui kegiatan akademik maupun non-akademik menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Penutupan tahun 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi bagi generasi muda: sudah sejauh mana kita menyiapkan diri untuk masa depan? Tahun 2026 akan menjadi era peluang bagi mereka yang siap secara keterampilan dan mentalitas belajar. Dengan bekal teknologi, manajemen, dan bisnis digital, saya optimistis anak muda Indonesia tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga tampil sebagai penggerak perubahan di era digital yang terus berkembang.