REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi computer vision menjadi salah satu topik yang paling sering dibicarakan di berbagai media. Mulai dari sistem pengenal wajah, kamera pintar, kendaraan otonom, hingga analisis video berbasis kecerdasan buatan, semuanya tampil sebagai simbol kemajuan teknologi visual. Namun, di balik gegap gempita istilah computer vision, ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian publik: image processing.
Sebagai Ketua Program Studi Informatika di Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat image processing bukan sekadar mata kuliah teknis, melainkan pintu masuk utama bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana mesin “melihat” dunia. Tanpa penguasaan pengolahan citra, computer vision hanya akan menjadi teknologi yang dangkal, canggih di permukaan, tetapi rapuh secara konsep.
Image processing mengajarkan satu hal mendasar: bahwa gambar bukan sekadar visual, melainkan data. Di dalam sebuah citra terdapat informasi numerik yang bisa diproses, dimodifikasi, dianalisis, dan diinterpretasikan. Proses seperti filtering, edge detection, segmentation, hingga feature extraction menjadi latihan intelektual bagi mahasiswa Informatika untuk berpikir komputasional, mengubah realitas visual menjadi struktur data yang bisa dipahami mesin.
Di era Kampus Digital Bisnis, penguasaan image processing menjadi semakin relevan karena teknologi visual kini menembus hampir semua sektor. Dunia kesehatan memanfaatkannya untuk analisis citra medis, sektor keamanan menggunakannya dalam sistem pengawasan berbasis AI, industri kreatif memakainya dalam pengolahan konten visual, sementara konsep smart city menjadikannya tulang punggung dalam pengelolaan data berbasis kamera. Semua itu bermula dari satu kemampuan dasar: bagaimana sistem digital memproses citra.
Namun, popularitas teknologi visual juga membawa konsekuensi baru. Manipulasi gambar, deepfake, penyebaran informasi visual yang menyesatkan, hingga penyalahgunaan data visual menjadi isu serius di ruang publik. Inilah tantangan generasi Informatika hari ini. Mahasiswa tidak cukup hanya mahir secara teknis, tetapi juga harus memiliki kesadaran etis terhadap teknologi yang mereka kembangkan.
Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial. Di UNM, kami tidak hanya mendorong mahasiswa untuk menguasai algoritma dan bahasa pemrograman, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap baris kode memiliki dampak sosial. Teknologi visual bukan hanya soal akurasi sistem, tetapi juga tentang tanggung jawab moral.
Ke depan, saya meyakini bahwa image processing akan tetap menjadi fondasi utama dalam inovasi digital, khususnya di ranah computer vision. Mahasiswa Informatika harus memanfaatkan momentum ini untuk memperdalam kompetensi, mengikuti perkembangan riset, dan berani melakukan eksplorasi ilmiah. Image processing bukan sekadar materi kuliah, tetapi bekal strategis untuk memasuki masa depan teknologi visual yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, ledakan computer vision yang kita saksikan hari ini berdiri di atas kerja sunyi image processing. Dan, di situlah letak tantangannya: bagaimana memastikan mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi visual, tetapi juga menjadi perancangnya yang memahami fondasi, berpikir kritis, dan bertanggung jawab terhadap dampak inovasi yang mereka ciptakan.