Jumat 02 Jan 2026 06:14 WIB

Prabowo Setujui Usulan Sjafrie Bentuk Satgas Kuala: Saya Commit Rp 60 Triliun

Saya kira dengan upaya nanti dredging kuala-kuala itu akan keluar uang lagi.

Presiden Prabowo Subianto saat meninjau rumah hunian Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1/2026).
Foto: BPMI Setpres
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau rumah hunian Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kuala usulan Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin yang fokus utamanya mengeruk sungai-sungai dangkal. Hal itu terjadi karena timbunan lumpur di daerah terdampak bencana dan mengolah air berlumpur menjadi air bersih.

Dalam rapat terbatas di lokasi hunian sementara yang dibangun Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1/2026), Sjafrie menjelaskan kepada Prabowo mengenai strateginya mengeruk sungai-sungai yang alirannya bermuara ke laut. Menurut dia, pengerukan (dredging) dapat membantu mengangkut timbunan lumpur di dasar sungai.

Baca Juga

Langkah itu sekaligus membawa alat-alat berat agar lebih dekat ke daratan. "Ada pemikiran dari kami dengan TNI bahwa Sungai Tamiang, sebagai satu contoh, yang sekarang mengalami pendangkalan. Sungai Tamiang itu bisa bermuara, bisa berasal dari laut," ucap Sjafrie mengusulkan.

"Kita lakukan dua kegiatan sekaligus, satu adalah pendalaman, satu yang membawa alat berat, sehingga dia bisa masuk sampai ke (dekat daratan), sekaligus membersihkan kayu-kayu dan sebagainya. Ini upaya besar yang harus kita kerjakan," kata Sjafrie kepada Prabowo saat rapat terbatas.

Dia mengaku, telah berbicara dengan Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita mengenai operasi pengerukan tersebut. Tandyo saat itu duduk di samping Sjafrie.

"Tidak hanya di Tamiang, tetapi di Bireuen juga harus kita kerjakan. Jadi, di Aceh kita lakukan itu. Kita lihat lagi, kalau ada di Sibolga, umpamanya. Jadi, dari laut kita sudah lakukan pendalaman sampai ke sungai sehingga kapal tidak perlu lagi taruh alat berat digendong pakai jalur darat, tetapi dia langsung ke titik terdekat," ucap Sjafrie.

Usulan itu pun direspons baik oleh RI 1. Prabowo mengaku, usulan yang sama juga sempat disampaikan beberapa kepala daerah kepada dirinya. Menurut dia, semua kuala atau muara sungai memang harus dinormalisasi.

"Kita bongkar itu ya. Saya kira silakan Menteri Pertahanan dan TNI koordinasi sama gubernur-gubernur ya. Silakan cari, bicara dengan ahli-ahli engineering, mungkin dari (BUMN) karya, dari PU (Pekerjaan Umum), dari fakultas-fakultas teknik kalau perlu, dari perusahaan-perusahaan besar di dunia yang mampu membuat engineering work. Ini kan engineering work skala besar ya," kata Prabowo.

Dalam pembicaraan itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M Tito Karnavian turut melaporkan kepada Prabowo  untuk memanfaatkan alat-alat yang biasa digunakan penambang-penambang di Bangka Belitung. Hal itu mengingat mereka terbiasa melakukan dredging.

"Itu daya sedotnya luar biasa, mereka cepat sekali, Pak," kata Tito mengusulkan kepada Prabowo.

"Sudahlah! Kita bikin operasi besar saja. This is a big...big engineering operation. Saya sangat setuju. Ada perusahaan-perusahaan besar yang punya keahlian di bidang ini," kata Prabowo merespons usulan Sjafrie dan Tito.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement