REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan Institut Studi Politik Internasional, menyetujui pengembangan hulu ledak nuklir padat untuk rudal balistik pada Oktober lalu. Persetujuan itu, menurut laporan Iran Internasional, Rabu (24/12/2025) membalikkan kebijakan yang selama ini mengharamkan pemanfaatan nuklir untuk senjata.
"Sumber kami di Teheran saat ini mengatakan bahwa, pada Oktober, Khamenei memutuskan untuk memberikan lampu hijau terhadap pengembangan hulu ledak padat untuk rudal balistik," demikian menurut laporan ISPI.
Laporan ISPI menyebutkan, Khamenei sebelumnya selalu memblok upaya pengayaan uranium ke level yang bisa digunakan untuk membuat bom nuklir atau pengembangan hulu ledaknya, meski ia dalam tekanan dari pemangku kepentingan keamanan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, perang 12 hari pada Juni lalu menandai titik balik, lantaran tereksposenya kelemahan sistem pertahanan udara Iran dan keterbatasan stok rudal untuk konflik jangka panjang.
"Satu-satunya sistem penangkal yang sebenarnya yang bisa menyelamatkan rezim Iran saat konflik dengan Israel dan AS terjadi adalah senjata nuklir," kata laporan ISPI.
Namun demikian, masih menurut laporan ISPI, Khamenei masih belum mengotorisasi pengayaan uranium dengan pemurnian di atas 60 persen. Iran saat ini, memprioritaskan menyiapkan desain hulu ledaknya lebih dulu daripada pengayaan uranium dengan level bom nuklir untuk menghindari serangan baru dari Israel dan AS.
"Saat pengayaan (Uranium) menuju 90 persen membutuhkan waktu hanya beberapa pekan jika masih sentrifugal masih cukup tersedia, hulu ledak padat memiliki tantangan yang lebih kompleks," menurut laporan ISPI merujuk pada pengalaman Pakistan.
View this post on Instagram