Senin 15 Dec 2025 18:50 WIB

Prabowo Sebut Banjir Sumatera Karena Perubahan Iklim

Menteri Lingkungan Hidup akui ada degradasi lingkungan di Sumatera.

Rep: Lintar Satria/ Red: Fitriyan Zamzami
Presiden Prabowo Subianto (kiri) memeluk anak-anak saat mengunjungi posko pengungsian di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (12/12/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Prabowo Subianto (kiri) memeluk anak-anak saat mengunjungi posko pengungsian di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (12/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin. Dalam pidatonya di pertemuan itu, Presiden menegaskan bahwa banjir dan longsor dahsyat di Sumatera belakangan akibat perubahan iklim global.

"Karena memang masalah perubahan cuaca climate change yang mempengaruhi lingkungan hidup kita menjadi masalah global, masalah planet," ucapnya. Kondisi itu, kata Presiden, harus dihadapi bangsa Indonesia dengan menjadi semakin kuat, semakin tegar, dan semakin waspada.

Baca Juga

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan ada degradasi lingkungan di hutan di Sumatera. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem kini tampak terbuka, alur sungai melebar tidak wajar, dan jejak longsoran tanah mengarah langsung ke pemukiman warga.

Hanif mengatakan kondisi ini menegaskan banjir bandang di Aceh Timur bukan semata peristiwa alam, melainkan sinyal keras adanya tekanan serius terhadap daya dukung lingkungan akibat aktivitas ilegal.

Hanif melakukan peninjauan dari udara ke wilayah Pesisir Timur Aceh, mulai dari Tusam, Lhokseumawe, Langsa, hingga Aceh Tamiang. Ia menemukan indikasi kuat penyerobotan kawasan hutan dan lahan untuk aktivitas perkebunan sawit dan pertambangan ilegal, termasuk pada wilayah lereng bukit dengan tingkat kemiringan ekstrem di atas 45 derajat.

photo
Eskavator milik Agincourt terlihat disekitar tumpukan batang kayu gelondongan yang memenuhi Sungai Garoga di Tapanuli Selatan, Sabtu (6/12/2025). - (Edwin Putranto/Republika)

Praktik ini secara nyata menghilangkan fungsi hutan sebagai pengendali tata air alami dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Hanif mengingatkan pengelolaan lahan di kawasan dengan kemiringan ekstrem sangat berbahaya dan bertentangan dengan prinsip perlindungan lingkungan hidup. Praktik ilegal semacam ini tidak hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga mengancam nyawa masyarakat yang tinggal di wilayah hilir.

"Tidak ada toleransi bagi pelanggaran yang merusak lingkungan dan membahayakan rakyat. Siapa pun yang terbukti melanggar, akan kami tindak tegas sesuai hukum yang berlaku," Hanif dalam pernyataannya, Senin (15/12/2025).

Menindaklanjuti temuan lapangan, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak kerusakan hutan dan lahan di wilayah terdampak. Evaluasi ini mencakup penilaian kondisi hutan, Daerah Aliran Sungai (DAS), serta perubahan tata guna lahan yang terbukti berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana. KLH/BPLH menjamin, sejumlah korporasi yang diduga kuat berkontribusi terhadap kerusakan akan ditindak tegas melalui upaya paksa penegakan hukum. 

Sedangkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan ada perintah dari Prabowo untuk menambah jumlah polisi hutan (polhut) untuk memperkuat pengawasan dan mencegah perambahan/pembalakan hutan (illegal logging). Raja Juli mencontohkan saat ini di Aceh, misalnya, untuk kawasan hutan seluas 3,5 juta hektare, hanya ada sekitar 30–32 polisi hutan yang bertugas.

photo
Gambaran kehilangan lahan hutan di Sumatera Utara pada periode 2002-2024 merujuk catatan Global Forest Watch. - (globalforestwatch.org)

“Ini sama sekali tidak masuk akal, dan Bapak Presiden langsung meminta kepada saya untuk melipatgandakan jumlah polisi hutan kita sehingga illegal logging yang kemudian mengakibatkan rusaknya hutan kita dapat diatasi untuk sesegera mungkin,” kata Menhut Raja Juli Antoni saat jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin, sebelum Sidang Kabinet Paripurna.

Dalam kesempatan itu, Raja Juli mengucapkan terima kasih atas atensi khusus Presiden. Menurut dia, perintah itu juga menjadi dukungan moral bagi Kementerian Kehutanan dan jajaran polisi hutan yang saat ini bertugas.

“Saya tambah percaya diri bersama rekan-rekan kehutanan, karena kami mendapat dukungan moral yang kuat, mendapat dukungan politik yang kuat dari Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Raja Juli.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement