Senin 15 Dec 2025 14:59 WIB

Zelenskyy Mengalah, Siap Batal Gabung NATO

Potensi Ukraina bergabung NATO jadi salah satu alasan serangan Rusia.

Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump, tengah, di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat, 28 Februari 2025, di Washington.
Foto: AP Photo/Mystyslav Chernov
Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump, tengah, di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat, 28 Februari 2025, di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan untuk membatalkan aspirasi negaranya untuk bergabung dengan aliansi militer NATO. Ini ia sampaikan saat ia mengadakan pembicaraan lima jam dengan utusan AS di Berlin pada Ahad untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

Utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, mengatakan “banyak kemajuan telah dicapai” dalam pertemuan dengan Zelenskyy. Witkoff dan menantu presiden AS, Jared Kushner, bertemu Zelensky dalam upaya terbaru untuk mengakhiri konflik paling berdarah di Eropa sejak perang dunia kedua – meskipun rincian lengkapnya tidak diungkapkan.

Baca Juga

Dmytro Lytvyn, penasihat presiden Ukraina, mengatakan Zelenskyy akan berkomentar lebih lanjut ketika pembicaraan berakhir pada Senin. Dia menambahkan, para pejabat kini sedang mempertimbangkan rancangan dokumen tersebut.

Sebelum perundingan, Zelensky telah menawarkan untuk membatalkan tujuan Ukraina untuk bergabung dengan NATO dengan imbalan jaminan keamanan Barat.

Langkah ini menandai perubahan besar bagi Ukraina, yang telah berjuang untuk bergabung dengan NATO sebagai upaya perlindungan terhadap serangan Rusia dan aspirasi tersebut dimasukkan dalam konstitusinya. Hal ini juga memenuhi salah satu tujuan perang Rusia, meskipun Kyiv sejauh ini bersikeras menolak penyerahan wilayah ke Moskow.

Siaga NATO dan Rusia.

"Perwakilan mengadakan diskusi mendalam mengenai 20 poin rencana perdamaian, agenda ekonomi, dan banyak lagi. Banyak kemajuan yang dicapai," tulis Witkoff dalam postingan di X.

Pembicaraan tersebut dipandu oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang menurut sebuah sumber telah memberikan pernyataan singkat sebelum meninggalkan kedua pihak untuk bernegosiasi. Para pemimpin Eropa lainnya juga dijadwalkan berada di Jerman untuk melakukan pembicaraan pada hari Senin.

Zelensky menggambarkan konsesi terhadap NATO sebagai sebuah kompromi.

"Sejak awal, keinginan Ukraina adalah untuk bergabung dengan NATO: ini adalah jaminan keamanan yang nyata. Beberapa mitra dari AS dan Eropa tidak mendukung arah ini," katanya – seraya menambahkan bahwa jaminan keamanan yang mengikat secara hukum dari AS, Eropa, dan negara-negara lain seperti Kanada dan Jepang dapat "mencegah invasi Rusia lainnya".

Vladimir Putin telah berulang kali menuntut agar Ukraina secara resmi meninggalkan ambisinya di NATO dan menarik pasukan dari sekitar 10 persen wilayah Donbas yang masih dikuasai Kyiv. Moskow juga mengatakan bahwa Ukraina harus menjadi negara netral dan tidak ada pasukan NATO yang boleh ditempatkan di sana.

photo
Prajurit Ukraina dari batalion Donbas mengarahkan senapan mereka selama pelatihan militer di posisi dekat garis depan, wilayah Donetsk, Ukraina timur, 16 Oktober 2023. - (EPA-EFE/YAKIV LIASHENKO)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement