Jumat 28 Feb 2025 19:24 WIB

IDF Terbukti Babak Belur pada 7 Oktober, Netanyahu Terancam

Hasil investigasi menunjukkan IDF gagal melindungi Israel pada 7 Oktober 2023.

Aktivis membakar kertas bergambar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat aksi bela Palestina di Kota Tangerang, Banten, Jumat (6/12/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
Aktivis membakar kertas bergambar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat aksi bela Palestina di Kota Tangerang, Banten, Jumat (6/12/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Hasil investigasi yang dilakukan tentara pendudukan Israel yang menunjukkan kegagalannya dalam serangan 7 Oktober 2023 membuat marah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Lawan-lawannya memanfaatkannya untuk menuntut ia bertanggung jawab dan mengundurkan diri.

Investigasi yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel menyimpulkan bahwa terdapat “kegagalan total” dalam mencegah serangan 7 Oktober 2023 terhadap pemukiman di sekitar Gaza, dan mengungkapkan rincian dan data baru tentang serangan tersebut.

Baca Juga

Aljazirah melansir bahwa Netanyahu membenarkan kemarahannya dengan mengatakan bahwa tentara mempublikasikan hasil investigasi sebelum mengirimkannya kepadanya. Dia menolak semua seruan untuk mengundurkan diri atau mengakui tanggung jawab atas kegagalan menangani serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dialami Israel.

Adapun Kepala Staf Israel yang akan habis masa jabatannya, Herzi Halevi, mengakui kesalahan tentara Israel dalam serangan 7 Oktober tersebut, dan menekankan bahwa ia memikul tanggung jawab penuh.

“Kami tidak punya masalah mengakui bahwa kami melakukan kesalahan pada 7 Oktober, dan saya bertanggung jawab. Saya adalah komandan militer hari itu, dan tanggung jawab ada di tangan saya,” kata Halevi dalam pernyataannya mengenai penyelidikan militer.

Sementara mantan anggota Kabinet Perang Benny Gantz menyerukan pembentukan komisi penyelidikan resmi, pemimpin oposisi Yair Lapid memanfaatkan temuan tersebut untuk menyerukan pertanggungjawaban atas apa yang disebutnya sebagai pemerintahan yang gagal.

“Tentara menunjukkan keberanian dan integritas dan melakukan penyelidikan sendiri tanpa ada upaya untuk menutupi atau menghindari tanggung jawabnya,” kata Lapid melalui platform X.

“Sudah waktunya bagi kelompok pengecut dan gagal yang bernama pemerintah Israel untuk melakukan hal yang sama daripada selalu menghindari tanggung jawab,” tambahnya.

Surat kabar Israel Maariv mengutip sumber yang mengatakan bahwa Kepala Staf Israel yang baru, Eyal Zamir, akan menunjuk tim eksternal untuk menyelidiki serangan 7 Oktober itu, seperti yang diinginkan pendahulunya. Maariv melaporkan bahwa Divisi Riset Intelijen Militer seharusnya mengeluarkan peringatan mengenai serangan tersebut, namun menyimpulkan bahwa skenario seperti itu tidak ada.

Adapun Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), kemarin, Kamis, menyatakan bahwa hasil investigasi yang dilakukan tentara Israel terkait penyerangan 7 Oktober 2023 - yang menyimpulkan adanya kegagalan serius dalam mengantisipasi dan menghadapi serangan tersebut - menegaskan keunggulan kemauan Palestina atas seluruh mesin militer Israel.

Juru bicara gerakan tersebut, Hazem Qassem, mengatakan bahwa manifestasi kegagalan, beberapa di antaranya terungkap melalui penyelidikan oleh tentara pendudukan Israel, menegaskan keunggulan kemauan Palestina atas seluruh mesin militer pendudukan, dan kemampuan pikiran keamanan Qassam untuk mengalahkan semua aparat keamanan Zionis.

“Arogansi penjajah Zionis akan terus menghalangi mereka untuk melihat kebenaran tentang orang-orang hebat yang berusaha merampas kebebasan dan kemerdekaan mereka,” tambah Qassem dalam pernyataannya melalui Telegram.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement