Kamis 14 Mar 2024 14:00 WIB

El Nino Berlanjut, Menko Polhukam: Karhutla Masih Berpotensi Terjadi pada 2024

Peningkatan potensi terjadinya karhutla belum akan begitu terlihat April hingga Juni

Asap membumbung tinggi dari hutan yang terbakar di Laboratorium Alam Hutan Gambut Cimtrop, Kelurahan Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (8/10/2023). Kebakaran yang melanda kawasan ekosistem gambut tersebut terjadi sejak Jumat (6/10) dan hingga saat ini petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus berupaya memadamkan api di wilayah itu.
Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Asap membumbung tinggi dari hutan yang terbakar di Laboratorium Alam Hutan Gambut Cimtrop, Kelurahan Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (8/10/2023). Kebakaran yang melanda kawasan ekosistem gambut tersebut terjadi sejak Jumat (6/10) dan hingga saat ini petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus berupaya memadamkan api di wilayah itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Hadi Tjahjanto mengungkapkan, potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terlihat pada 2024. Sebab itu, sejumlah langkah antisipasi akan dilakukan, salah satunya dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC).

"Sesuai dengan prediksi BMKG, El Nino masih terjadi pada tahun 2024 ini. Prediksi pada bulan Mei, Juni, dan Juli itu bisa netral dan berakhir pada akhir tahun 2024. Dan masih terjadi potensi kebakaran hutan dan lahan," jelas Hadi pada konferensi pers usai Rapat Koordinasi Khusus Karhutla 2024 di KLHK, Jakarta, Kamis (14/3/2024).

Dia menjelaskan, peningkatan potensi terjadinya karhutla belum akan begitu terlihat pada April hingga Juni 2024. Hanya di wilayah Nusa Tenggara saja potensi karhutla terlihat cukup mengalami peningkatan. Di daerah lain, potensi karhutla baru meningkat pada Juli, Agustus, dan September, yakni di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah

"Namun untuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara itu memang diprediksi April ini sudah terjadi kekeringan," terang Hadi.

Untuk itu, pemerintah melakukan sejumlah upaya antisipasi. TNI, Polri, kepala daerah, dan para pemangku kepentingan lain beserta masyarakat perlu bahu-membahu untuk melakukan mitigasi dan menangani karhutla. Di samping itu, TMC juga sudah disiapkan sejak Maret ini hingga September mendatang untuk upaya pencegahan dan penanganan karhurla.

"Kita sudah memiliki data termasuk sudah didukung oleh BMKG, BRIN, dan TNI untuk menyiapkan alutista serta TMC di daerah-daerah yang kita antisipasi," kata dia.

Dia menuturkan, pemerintah pusat juga mengingatkan perihal lahan gambut yang harus tetap dalam kondisi basah ke depan. Menurut Hadi, koordinasi sudah dilakukan untuk tetap menjaga kondisi basah gambut tersebut dengan memantau tinggi muka air (TMA) di seluruh wilayah gambut.

"Jangan sampai kering dan ini akan kita terus pantau dan antisipasinya adalah setelah lebaran ini kita sudah harus di lapangan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla," jelas Hadi.

Di samping itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengajak semua pihak baik instansi pemerintah maupun swasta untuk siap melanjutkan tren positif mitigasi bencana karhutla tahun sebelumnya pada tahun 2024.

"Untuk itu kuncinya semua harus gerak cepat paling tidak bisa sama seperti tahun 2023 di mana luasan karhutla lebih kecil dibandingkan 2019," kata Suharyanto di Jakarta, Senin (19/2/2024).

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) diketahui pada tahun 2023 sebaran karhutla di Indonesia menyasar seluas 1,1 juta hektare, sebaran tersebut lebih rendah ketimbang kebakaran pada periode tahun 2019 yang menghanguskan 1,6 juta hektare hutan dan lahan.

Menurut dia, hal demikian disebabkan saat itu semua instansi pemerintah dan swasta tingkat pusat dan daerah bergerak dalam satu komando, sehingga meskipun sebagian besar wilayah Indonesia kering akibat fenomena El-Nino tapi sebaran bisa diatasi.

Dia menyebutkan, keberhasilan menangani karhutla pada periode 2023 itu harus bisa kembali dipertahankan pada tahun ini sehingga tidak terjadi dampak kerusakan ekologis yang meluas.

Adapun caranya segenap instansi melakukan tugas masing-masing secara konsekuen, mulai dari memasifkan pembasahan di lahan-lahan mineral gambut sejak dini, hingga mengefektifkan teknologi modifikasi cuaca.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement