Selasa 23 Jan 2024 19:13 WIB

HUT Ke-23 BAZNAS dan Fenomena FOMO Penggalangan Donasi untuk Palestina

BAZNAS mengirimkan bantuan melalui pesawat Misi Kemanusiaan Indonesia ke Gaza.

Paket bantuan kemanusiaan Palestina yang disalurkan rakyat Indonesia melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI sedang dalam proses loading dan penyusunan ke dalam Kapal KRI 992 Dr Radjiman Wedyodiningrat.
Foto: Baznas
Paket bantuan kemanusiaan Palestina yang disalurkan rakyat Indonesia melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI sedang dalam proses loading dan penyusunan ke dalam Kapal KRI 992 Dr Radjiman Wedyodiningrat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, Ketua BAZNAS RI

Agresi militer yang dilakukan zionis Israel terhadap rakyat Palestina pada Oktober 2023, memunculkan dampak yang sangat serius. Selain jatuhnya korban jiwa, serangan sporadis itu juga membuat rakyat Palestina semakin terpuruk akibat kehilangan harta benda dan hak kehidupan lainnya. Kenyataan pahit itu tentu berimbas pada penderitaan mereka yang terus bertambah.

Merespon hal itu, Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) menggalang Infak kemanusiaan dengan tema “Membasuh Luka Palestina” secara nasional. Program ini diharapkan mampu membantu masyarakat di sana dalam mencukupi kebutuhan mereka di tengah gempuran zionis Israel.

Indonesia sebagai negara mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia berhasil membuktikan kesungguhannya dalam membantu rakyat Gaza, Palestina. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara pemberi bantuan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

 

Dalam kegiatan Laporan Bantuan Kemanusiaan Membasuh Luka Palestina bersama Pimpinan BAZNAS RI dan para Mitra Donatur, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu, 10 Januari 2024, telah disalurkan sejumlah donasi per 31 Desember 2023 sebanyak Rp 187.907.229.611.

Dari total tersebut, sebesar Rp 93,29 miliar berasal dari pengumpulan BAZNAS, dan sisanya sebesar Rp 94,61 miliar berasal dari infak korporasi maupun individu lainnya.

Dalam Program Bantuan Kemanusiaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BAZNAS RI menargetkan sebesar Rp 250 miliar. Dan alhamdulillah antusiasme publik dan lembaga donatur sangat luar biasa.

Sebanyak 752 mitra turut ambil bagian, yang terdiri atas 376 munfik perorangan/komunitas, 95 munfik badan, 7 munfik natura perorangan kolektif/komunitas, 3 munfik natura badan, 213 BAZNAS provinsi/kabupaten/kota, dan 58 Lembaga Amil Zakat (LAZ). Hingga Ahad, 14 Januari 2024, pengumpulan BAZNAS RI dan para mitra tersebut, berhasil terhimpun sejumlah donasi sebanyak Rp 191 miliar atau 12 juta dolar AS.  

BAZNAS RI telah mengirimkan bantuan melalui pesawat Misi Kemanusiaan Pemerintah Indonesia yang dilepas oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo dari Lanud Halim Perdanakusuma. Bantuan pertama dan kedua telah dikirimkan dari Mesir ke Gaza bekerja sama dengan mitra setempat melalui pintu perbatasan Rafah. Bantuan dipastikan akan terus bertambah karena masih banyak lembaga yang terus berdatangan ke kantor BAZNAS Pusat untuk menyalurkan donasi mereka.

Tidaklah mudah dalam menghadapi situasi kemanusiaan di Gaza saat ini. Diperlukan strategi jangka panjang karena tidak ada yang dapat memastikan kapan agresi zionis Israel akan berakhir, dan bagaimana kondisi kota Gaza, Palestina pasca agresi tersebut.

Bulan Sabit Merah Mesir atau Egyptian Red Crescent (ERC), sebagai pihak yang ditunjuk Pemerintah Negeri Piramida untuk menyalurkan bantuan ke Gaza, sempat mengkhawatirkan logistik yang datang bertubi-tubi akan menumpuk di awal krisis. Namun saat Gaza tenang pada akhirnya bantuan bisa masuk secara meluas. Atas dasar itu, BAZNAS membuat skema penyaluran donasi yang dihimpun melalui tiga tahap, yaitu 40% di masa tanggap darurat, 20% untuk rehabilitasi, dan 40% untuk rekonstruksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan penggalangan dana untuk membantu berbagai krisis kemanusiaan, semakin menguat di tengah masyarakat global termasuk di Indonesia. Salah satu faktor yang mendorong hal itu adalah, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia selama enam tahun berturut-turut berdasarkan survei world giving index dari Charities Aid Foundation (CAF)

Dengan adanya informasi mengenai agresi Israel ke Gaza Palestina yang menyebabkan bencana kemanusiaan dahsyat, banyak masyarakat Indonesia yang ingin memberikan bantuan kepada masyarakat Gaza Palestina. Maka, untuk membantu dan mengakomodir masyarakat Indonesia dalam menyalurkan bantuan ke Palestina dan berdasarkan spirit Undang-Undang No.23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS bersama-sama dengan masyarakat Indonesia berinisiatif untuk membantu masyarakat Gaza di Palestina.

Selain itu, ada juga motivasi mulia yang dimiliki bangsa Indonesia dan juga BAZNAS yaitu turut mengimplementasikan alinea pertama Pembukaan UUD 1945, “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Dan alenia keempat yang berbunyi, "....ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Posisi BAZNAS sangatlah penting dalam mendorong program pembantuan untuk rakyat Palestina, hal ini dikarenakan BAZNAS RI sebagai lembaga amil zakat di negeri ini dan memiliki peran strategis dalam mengelola dana zakat, infak dan sedekah untuk menyejahterakan umat. Keterlibatan instansi pemerintah dan juga masyarakat yang terdapat hampir di semua provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia ini, dalam penggalangan dana untuk Palestina, mencerminkan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas antar umat beragama.

BAZNAS berusaha untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, dan tragedi penjajahan di Palestina menjadi fokus karena dampak kemanusiaannya yang mendalam dan telah terjadi sangat lama atau berkepanjangan. FOMO atau rasa takut ketinggalan, telah menjadi bagian integral dari kehidupan di era digital ini. Terkait dengan penggalangan dana, FOMO dapat menjadi pendorong kuat di balik partisipasi massal. Ketika masyarakat melihat rekan-rekan mereka terlibat dalam penggalangan dana untuk penyebab tertentu, mereka mungkin merasa tertarik untuk ikut serta agar tidak merasa ketinggalan dari kontribusi sosial yang terjadi di sekitar mereka.

Fenomena FOMO dapat memiliki beberapa dampak positif terhadap penggalangan infak kemanusiaan untuk Palestina, salah satunya dapat mempercepat respons terhadap keadaan darurat atau krisis kemanusiaan. Selain itu, FOMO juga berimbas positif dalam meningkatkan partisipasi dan kesadaran, penting untuk memastikan bahwa kontribusi yang dilakukan tetap bermakna dan berkelanjutan.

BAZNAS menyadari perlu menyediakan informasi yang jelas tentang tujuan dan dampak donasi, serta memastikan transparansi agar masyarakat merasa yakin dengan kontribusi BAZNAS terhadap isu Palestina. Karena transparansi menjadi kunci BAZNAS dalam setiap program dan aktivitasnya.

Salah satu yang menjadi catatan penting pula bagi BAZNAS untuk tidak hanya fokus pada pengumpulan dana, tetapi juga pada pendidikan dan peningkatan kesadaran. Masyarakat perlu memahami akar masalah di Palestina dan bagaimana donasi mereka dapat membantu memperbaiki kondisi. Dengan meningkatkan pemahaman ini, partisipasi masyarakat dapat menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan.

Penjajahan di Palestina adalah tantangan global, dan perlu perhatian dan bantuan yang melibatkan masyarakat dunia. Dengan menggabungkan upaya dan dukungan dari berbagai negara dan komunitas, keberadaan BAZNAS dapat menciptakan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan.

Penggalangan dana untuk Palestina oleh BAZNAS dan organisasi amal lainnya adalah langkah positif menuju komitmen bersama untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Meski FOMO mungkin menjadi faktor dalam peningkatan partisipasi, penting untuk menjaga fokus pada tujuan kemanusiaan yang lebih besar. Edukasi, transparansi, dan solidaritas global adalah kunci untuk menciptakan perubahan positif yang lebih optimal dan sustainable di Palestina dan di seluruh dunia.

Fenomena di atas mengingatkan publik pada catatan sejarah, bahwa pada 17 Januari, 23 tahun lalu, Presiden ke-3 RI, almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menandatangani Keppres RI No. 8/2001 tentang Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia. Momen historis itu menjadi acuan peringatan hari lahir lembaga pemerintah non-struktural tersebut. Semoga eksistensi lembaga ini semakin menguatkan perjuangan membela kaum lemah, miskin dan tertindas, mendorong kaum papa menjadi berdaya, mengubah mustahik menjadi muzaki. Selamat ulang tahun BAZNAS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement