Senin 15 Jan 2024 14:16 WIB

Jokowi Dorong Perguruan Tinggi dalam Negeri Perbaiki Peringkat Dunia

Presiden Jokowi ingin bonus demografi dimanfaatkan agar Indonesia jadi negara maju.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Erik Purnama Putra
Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Foto: EPA-EFE/LUONG THAI LINH
Presiden Joko Widodo (Jokowi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, Indonesia memiliki banyak peluang dalam mengembangkan ekonomi hijau dan ekonomi biru. Menurutnya, Indonesia saat ini membutuhkan teknologi smart farming, smart fisheries, teknologi bioenergi, baterai kendaraan listrik, dan industri hijau.

"Juga butuh teknologi fast computing, fast analysis dan masih banyak lagi yang ini memang semuanya harus segera kita siapkan," kata Jokowi di acara pembukaan Konvensi Kampus XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia di Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (15/1/2024).

Dia menyampaikan, dalam peradaban sebuah negara biasanya hanya mendapatkan sekali peluang untuk menjadi negara maju. Peluang tersebut yakni bonus demografi.

Karena itu, Jokowi menekankan agar peluang bonus demografi tersebut bisa dimanfaatkan. "Seperti yang sering saya sampaikan, seperti negara-negara latin, Amerika Latin tahun 50, tahun 60, tahun 70 diberikan peluang dan tidak bisa memanfaatkan," ujarnya.

Pada saat itu, sambung dia, negara di Amerika Latin sudah menjadi negara berkembang. Namun hingga saat ini mereka tetap menjadi negara berkembang, bahkan ada yang menurun menjadi negara miskin karena tidak bisa memanfaatkan peluang.

Karena itu, menurut Jokowi, perguruan tinggi dalam negeri harus terus didorong untuk memperbaiki peringkat perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sebab, lembaga pendidikan memiliki tugas penting untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berkualitas, serta mencetak SDM yang unggul.

Peran lembaga pendidikan itupun menjadi kunci utama. "Berdasarkan US World yang ada setiap tahun. Saya lihat yang rankingnya 200 ke atas masih kecil sekali. Gak usah saya sebut karena kecil sekali dan nilainya masih di atas 100 yang masuk top 100 atau top 50 belum ada," kata Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement