Kamis 30 Nov 2023 16:40 WIB

TPST Gedebage Dipastikan Beroperasi Pekan Depan

Sekda Kota Bandung memastikan TPST Gedebage akan beroperasi mulai pekan depan.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Bilal Ramadhan
Petugas kebersihan memasukan sampah organik ke lubang yang baru di kawasan Tegallega, Kota Bandung. Sekda Kota Bandung memastikan TPST Gedebage akan beroperasi mulai pekan depan.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Petugas kebersihan memasukan sampah organik ke lubang yang baru di kawasan Tegallega, Kota Bandung. Sekda Kota Bandung memastikan TPST Gedebage akan beroperasi mulai pekan depan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna memastikan dimulainya pengoperasian TPST Gedebage pada Senin 4 Desember 2023 mendatang. Ema mengatakan, TPST Gedebage akan difokuskan sebagai tempat pengolahan sampah organik dengan mengandalkan mesin gibrik mini dan teknik magotisasi.

“Senin (4/12/2023) itu kan harus sudah mulai operasional untuk penanganan yang organik. Organiknya kan nanti itu dicacah dulu oleh mesin gebrik. Setelah dicacah jadi bubur sampah, itu jadi pakannya magot. Karena di sana sudah dibangun 175 biopond magot dan 6 mesin gibrik mini,” jelas Ema.

Baca Juga

TPST seluas 2,5 hektar tersebut nantinya hanya ditujukan untuk mengolah sampah organik dari wilayah Kiaracondong dan Gebebage, kata Ema. Adapun estimasi sampah yang mampu dioleh diperkirakan mencapai 60 ton per hari.

“Kalau se-Kota Bandung mah nggak muat. Jadi yang lain kan bisa ditangani dengan TPST yang lain. Target disana bisa menyelesaikan 60 ton lah,” kata Ema.

 

Lebih lanjut, Kepala DLH Kota Bandung Dudy Prayudi mengatakan, saat ini pengecoran dan pembuatan biopond magot  di TPST Gedebage sudah selesai dikerjakan. Dudy menegaskan akan terus menggencarkan upaya pengurangan tonase sampah harian agar masa darurat sampah Kota Bandung dapat terselesaikan tepat waktu.

“Ya kita berupaya terus ya untuk bisa menyelesaikan sampah di masa darurat ini, kita juga ingin sebelum darurat ini selesai kita sudah selesai juga untuk menangani sampah terutama sampah organik,” kata Dudy.

“Makanya ada pengolahan di tingkat rumah tangga, kita membagikan Kang Empos, ada juga pengolahan organik di tingkat kelurahan  itu dengan tadi membuat hanggar untuk magotisasi,” sambungnya.

Dudy mengatakan, jika seluruh program Kang Empos, Magotisasi, dan TPST berjalan optimal maka perpanjangan masa darurat sampah tidak akan terulang kembali. Terkait TPS yang masih kelebihan kapasitas (overload), dari 135 TPS hanya 2 saja yang dilaporkan masih overload, yakni TPS Tegallega dan Holis.

“Overloadnya itu dalam artian ya, bukan menggunungnya sampah, ritase yang diperlukan lebih dari lima rit,” jelas Dudy.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement