Ahad 26 Nov 2023 08:28 WIB

Gelar Seminar Upgrading Skill, Mahasiswa Serukan Komitmen Jaga Lingkungan

Limbah sisa makanan menjadi ancaman serius terhadap lingkungan.

Upgrading Skill Food Waste Warriors dihadiri oleh puluhan masyarakat, baik dari mahasiswa, Amil, aktivis di Gedung Pascasarjana Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Foto: Dok LMI
Upgrading Skill Food Waste Warriors dihadiri oleh puluhan masyarakat, baik dari mahasiswa, Amil, aktivis di Gedung Pascasarjana Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA- Setelah seminggu lalu, mengadakan kampanye Gerakan No Food Waste (GWS) di CFD Taman Bungkul dan Masjid Al- Akbar, Surabaya. Kali ini, sekumpulan Mahasiswa Magang LMI Batch 5 kembali menggelar Seminar Upgrading Skill, Gerakan No Food Waste (GWS) untuk mengkaji permasalahan lingkungan, terutama limbah makanan.

Afnan Amiludin, Wakil Ketua Pelaksana mengungkapkan keprihatinan terhadap ketidaktahuan masyarakat akan isu sampah makanan sehingga menyisakan makanan tampak sudah menjadi sebuah kebiasaan. Sama halnya dengan sampah plastik, limbah sisa makanan menjadi ancaman serius terhadap lingkungan. Hal itulah yang menginisiasi sekumpulan mahasiswa ini untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat terkait bahayanya food waste. 

Baca Juga

“Minggu lalu, kami sempat mengadakan survei tingkat pengetahuan masyarakat terkait food waste, ternyata masih banyak masyarakat yang belum paham. Mereka mengira kalau sampah sisa makanan itu bisa terurai sendiri dengan cepat. Padahal, tidak semudah itu. Sampah makanan juga berbahaya terhadap lingkungan,” jelas Afnan saat ditemui usai acara di Gedung Pascasarjana Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, dalam siaran persnya, Sabtu (25/11/2023). 

Selaras dengan itu, Dwi Arif Fiandita, Manajer Patnership Garda Pangan menyampaikan untuk tidak berpikiran menyisakan makanan sehingga nanti akan menjadi kompos. Hal tersebut karena langkah pertama untuk tidak merusak lingkungan adalah usaha menghabiskan makanan kita.

 

“Sampah sisa makanan juga berkontribusi dalam perubahan iklim. Saat ini saja, dampaknya sudah dapat dirasakan. Semakin hari, suhu di bumi ini semakin panas,” ungkap Arif, sapaan akrabnya. 

Ia menambahkan, saat ini pembahasan sampah makanan masih kurang menjadi perhatian di masyarakat. Namun, pada kenyataannya sampah makanan memberikan pengaruh terhadap peningkatan global boiling dan menipisnya lapisan ozon. 

 Lebih lanjut, agenda yang bertajuk “Upgrading Skill Food Waste Warriors” dihadiri oleh puluhan masyarakat, baik dari mahasiswa, Amil, aktivis lingkungan. Mereka terlihat antusias dalam mendengarkan materi sekaligus aktif memberikan tanggapan, hingga diskusi. Turut hadir mitra kolaborasi dalam kegiatan ini, yaitu Garda Pangan, BEM PENS, Sosmas BEM PENS. 

Sementara itu, Agung Wicaksono, Direktur Utama LMI mengapresiasi langkah awal yang diinisasi oleh puluhan mahasiswa ini terhadap masalah lingkungan. Dimulai dari aktivitas kecil dengan tidak menyisakan makanan akan berdampak besar bagi keberlangsungan bumi. 

“Seminar ini menjadi wadah yang tepat bagi sitivitas akademika maupun praktisi untuk berdialog menyampaikan gagasan- gasasannya, khusunya mengenai permasalahan lingkungan. Saya harap seminar ini tidak hanya menambahkan wawasan terkait food waste, tapi juga mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat terhadap sampah makanan,” ungkap  Awie. 

Sebagai informasi, pada hari yang sama, para food waste warriors tersebut membagikan sisa makanan layak konsumsi yang sudah dihimpun dari mitra- mitra sebelumnya, seperti Namira Hotel, Riceout, Parisienne, dan Viriya Bala. Puluhan sisa makanan tersebut didistribusikan ke beberapa titik lokasi antara lain, Jl. Bratang - Jagir, Wonokromo- Joyoboyo, Jl. Soponyono, Jl. Manyar- Kertajaya, dan Jl. Gubeng.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement