Rabu 22 Nov 2023 22:06 WIB

DPR Minta Polri Usut Penggunaan Gas Air Mata Saat Ricuh Gresik United Vs Deltras

Evaluasi pengamanan saat pertandingan bola perlu dilakukan.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nashih Nashrullah
Gas Air Mata. Ilustrasi. Evaluasi pengamanan saat pertandingan bola perlu dilakukan
Foto: Wikipedia
Gas Air Mata. Ilustrasi. Evaluasi pengamanan saat pertandingan bola perlu dilakukan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA— Puluhan suporter dan aparat kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka usai terlibat dalam kericuhan pascalaga Liga 2 antara Gresik United dan Deltras Sidoarjo di Stadion Gelora Joko Samudro (Gejos) Gresik, Jawa Timur, pada Ahad (19/11/2023).

Kericuhan ini menimbulkan keprihatinan, terutama setelah serangkaian insiden serupa dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi III DPR Santoso meminta Polri melakukan investigasi dan evaluasi pengamanan pertandingan sepakbola. Santoso berharap kejadian seperti tragedi Kanjuruhan tak terulang lagi.

"Polri harus tetap melakukan investigasi terhadap penggunaan gas mata itu. Apakah sudah sesuai prosedur atau menyalahi ketentuan yang ada. Peristiwa di Stadion Kanjuruhan tidak boleh terulang kembali," kata Santoso kepada wartawan, Rabu (22/11/2023).

Santoso menyinggung penegakan hukum tragedi Kanjuruhan yang belum tuntas. Santoso mengamati sampai saat ini publik terutama masyarakat kota Malang masih menuntut sanksi berat kepada anggota Polri yang menyalahi penggunaan gas mata.

"Penindakan yang dilakukan oleh anggota Polri yang menyalahi prosedur penggunaan gas mata itu tidak dihukum semuanya. Polri masih melindungi anggotanya yang menggunakan gas air mata itu padahal korban yang tewas sangat banyak," ujar Santoso.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda mengingatkan pengelolaan suporter harus menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan pengelolaan sepak bola di tanah air. Menurutnya, gesekan suporter kerap kali memicu kerusuhan yang memicu korban baik dari kalangan suporter atau masyarakat luas.

"Kami mendorong Kemenpora maupun federasi segera bertemu dengan klub maupun perwakilan suporter untuk menstrukturisasi pengelolan suporter di Tanah Air," ujar Huda.

Baca juga: Sungai Eufrat Mengering Tanda Kiamat, Bagaimana dengan Gunung Emasnya?

Dalam situasi yang semakin memanas, Huda menekankan perlunya langkah konkret dalam menerapkan regulasi yang dapat menciptakan lingkungan aman dan tertib saat pertandingan sepak bola.

"Agar kejadian serupa tidak terulang apalagi menimbulkan korban jiwa, para suporter juga harus memiliki jiwa sportifitas serta menjaga ketertiban agar pertandingan sampai pasca pertandingan tidak menimbulkan bentrokan," ucap Huda. 

Di sisi lain, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah melakukan kordinasi dengan PSSI Asosiasi Provinsi (asprov) Jawa Timur terkait kericuhan suporter dengan pihak keamanan di Gresik.  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement