Selasa 07 Nov 2023 08:52 WIB

Mengurai Evolusi Dampak Viralitas di Dunia Maya

Industri pun kini melirik meme dan konsep viralitas menjadi strategi bisnis yang baru

Viral (ilustrasi)
Foto: picpedia.org
Viral (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,

Ditulis oleh Wartawan Republika Setyanavidita L 

Dunia maya telah mengalami evolusi yang luar biasa seiring berjalannya waktu. Salah satu fenomena yang mendefinisikan era digital ini adalah viralitas. 

Mulai dari video yang menarik, hingga tren hashtag alias tagar yang melanda, ada berbagai dampak viralitas di dunia maya. Tapi, apabila dilirikk dari awal, viralitas secara digital bermula seiring perkembangan internet pada 1990-an. 

Email chain alias pesan-pesan elektronik berantai awal adalah bentuk awal konten yang dapat dengan cepat menyebar dari satu orang ke orang lain. Kemunculan media sosial, seperti Friendster, MySpace, dan kemudian Facebook, membuka pintu bagi konten untuk dengan cepat menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. 

Pengguna pun dapat dengan mudah membagikan konten yang disukai dan membuatnya viral. YouTube menjadi platform revolusioner dalam memunculkan konten video viral. Video lucu, tutorial, dan konten-konten kreatif mulai memikat perhatian jutaan pengguna dan menyebabkan gelombang viralitas.

Dalam perkembangannya, lahirlah konsep meme dan hashtag yang menjadi simbol dari viralitas di dunia maya. Meme humoris dan tagar yang trendi dapat menciptakan gelombang partisipasi, menyatukan orang-orang di seluruh dunia dalam pembicaraan yang sama.

Para pengaruh digital alias influencer, atau selebgram juga berperan besar dalam menciptakan dan menyebarluaskan konten viral. Mereka memiliki basis pengikut yang besar dan dapat memberikan dorongan instan terhadap suatu tren atau konten.

Industri pun kini melirik meme dan konsep viralitas menjadi strategi bisnis yang baru. Perusahaan lintas industri mulai memanfaatkan viralitas sebagai strategi pemasaran. 

Kampanye-kampanye yang dirancang untuk menarik perhatian dan berpotensi menjadi viral dapat mencapai audiens yang luas dalam waktu singkat. Sama seperti pemanfaatan teknologi pada umumnya, segala sesuatu biasa memiliki sisi positif dan negatif. 

Begitu juga dengan viralitas di dunia maya. Viralitas dapat memiliki dampak positif, seperti meningkatkan kesadaran terhadap suatu isu tertentu, memicu gerakan amal, atau mempromosikan konten kreatif. Ini juga menjadi sarana untuk menyuarakan pendapat dan membangun komunitas.

Namun, viralitas juga dapat membawa dampak negatif. Penyebaran informasi palsu atau berbahaya dengan cepat dapat menimbulkan konsekuensi serius.

Cyberbullying dan penyebaran konten berbahaya juga menjadi risiko dari viralitas. Sayangnya, algoritma platform-platform media sosial dapat memperkuat fenomena "filter bubble".

Di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan yang sudah mereka setujui. Hal ini dapat menciptakan echochambers atau fenomena ruang hampa yang memperkuat keyakinan dan pandangan yang serupa. Memasuki dinamika politik dan suasana perbincangan di masyakarakat yang kian hangat, viralitas juga memainkan peran penting dalam politik dan aktivisme

Dalam beberapa bulan ke depan, konten terkait pemilihan umum atau isu-isu sosial dapat dipastikan akan menyebar dengan cepat. Hal ini tentu akan memengaruhi opini publik, dan memobilisasi aksi.

Seiring berjalannya waktu, viralitas di dunia maya terus berkembang, kemudian menciptakan dinamika budaya dan sosial yang kompleks. Seiring dengan kekuatan untuk menyatukan dan memberdayakan, viralitas juga membawa tanggung jawab untuk menggunakan dan mengelolanya dengan bijak guna menciptakan lingkungan digital yang positif dan berdaya.

Apalagi, dalam dua kali gelaran pemilu yang lalu, perpecahan yang menajam, terbukti tak membawa faedah apapun dalam kehidupan sehari-hari. Sudah saatnya, kehidupan di jagat maya tak hanya bergantung pada algoritma, tapi juga sensititivisme manusia.

Termasuk juga, melihat viralitas bukan sebagai tujuan atau jalan pintas mencapai mimpi, sampai akhirnya mengorbankan nalar. Sudah terlalu banyak cerita tak masuk akal yang terjadi, akibat ingin merangkul algoritma, yang mana sejatinya hal itu juga merupakan rahasia dapur dari dalam platform masing-masing.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement