Senin 09 Oct 2023 02:06 WIB

Sekjen Pemuda Muhammadiyah: Generasi Muda Harus Berperan di Pemilu 2024

Sekjen Pemuda Muhammadiyah soroti isu dinasti politik.

Pemilu 2024. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha
Pemilu 2024. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah) Najih Prasetyo mendorong seluruh generasi muda untuk memanfaatkan momentum Pemilu 2024, untuk memaksimalkan peran pemuda dalam kancah politik nasional.

"Momentum politik mendatang harus kita sambut dengan memaksimalkan peran generasi muda dalam politik nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Ahad (8/10).

Baca Juga

Najih melihat saat ini percakapan politik di Indonesia masih sibuk dan riuh dengan hal yang kurang produktif. Salah satunya terkait fenomena dinasti politik yang berkembang di tanah air. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang keliru dalam memahami praktik dinasti politik. 

"Di tengah kebudayaan politik kita yang belum cukup matang, banyak masyarakat yang senang menyederhanakan makna dinasti politik. Bahkan beberapa gelintir orang menggunakan frasa dinasti politik sekadar untuk menyerang karakter pribadi seseorang. Pembunuhan karakter seperti itu justru semakin merendahkan kualitas demokrasi dan politik kita”, kata Najih.

 

Najih juga membeberkan sejumlah fakta global di beberapa negara maju yang tidak begitu riuh mempersoalkan dinasti politik. Ia menjelaskan, di beberapa negara maju,  praktik dinasti politik itu biasa saja. Bahkan, negara seperti Amerika juga terjadi fenomena dinasti politik. 

"Ini misalnya bisa dilihat dari praktik politik keluarga Bush, Clinton atau bahkan keluarga Kennedy. Terbaru dan cukup fenomenal adalah kemunculan Jason Tredeau, Perdana Menteri Kanada. Tredeau berhasil menunjukkan dirinya perwakilan generasi muda dengan beragam macam gebrakannya dalam merumuskan regulasi yang kompatibel dengan situasi sekarang. Untuk diketahui, Juson Trudeau adalah anak sulung Pierre Tredau, mantan PM Kanada yang menjabat di era 70-an dan 80-an lalu, trah politik elit yang dimiliki oleh Jason tak membuatnya dikucilkan dan disisihkan dalam arena politik Kanada," jelasnya.

Berkaca dari fenomena global itu, menurut Najih, masyarakat Indonesia perlu melihat peluang munculnya generasi muda, ketimbang sibuk dengan keriuhan yang centang perenang.

"Menurut saya, ketimbang sibuk membangun sentimen personal terhadap tokoh politik yang sedang lahir saat ini, lebih baik kita menangkap peluang. Peluang untuk meruntuhkan praktik gerontokrasi (pemerintahan oleh kaum tua), lalu mendorong generasi muda untuk memimpin bangsa ini," katanya. 

Ia melanjutkan, dalam pemilu mendatang, lebih dari 50 persen pemilih adalah generasi muda. kesempatan ini perlu dimaksimalkan untuk melakukan regenerasi kepartaian dan sistem politik. Generasi muda harus tampil mengisi demokrasi Indonesia dengan gagasan dan karya-karya monumentalnya. Tentu dengan tetap berkiblat pada regulasi dan konstitusi yang berlaku.

"Kita mesti hindari sentimen personal dan pembunuhan karakter terhadap seseorang. Pada saat yang sama, sebagai angkatan muda Indonesia, kita harus tampil membuktikan kualitas generasi muda dengan menghadirkan praktik politik yang rasional, cerdas dan solutif bagi perbaikan bangsa," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement